Sebuah Catatan  Fotografi di Kediri

Oleh : Imam Mubarok [ Penggiat Komunitas Wong Ningratan]

MEMFOTO atau orang “jaman mbiyen” bilang ” motret” adalah pekerjaan mudah dan siapapun bisa. Kenapa saya katakana bisa ? sebab perkembangan teknologi saat ini memungkinkan akan hal tersebut. Memotret menggunakan kamera smart phone hingga kamera poket dan DSLR bisa dilakukan oleh siapapun, karena harga smart phone dan kamera DSLR cukup terjangkau. Namun memotret sesuatu yang biasa menjadi luar biasa itu sesuatu yang agak lumayan sulit. Atau membuat komposisi biasa menjadi luar biasa itu juga hal sulit bagi seorang pemula, seperti saya.

Demam fotografi di Kediri jika saya perhatikan mulai menjamur  sejak  dua tahun lalu, khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa. Tidak hanya itu kelompok-kelompok fotografer tua pun ikut-ikutan “ngeksis”. Dalam hati kecil saya bisakah mereka eksis dengan hobi mereka atau sekedar ikut-ikutan ??? atau sekedar menunjukkan jati diri “Saya lah fotografer ” terbukti kemana-mana bawa kamera. Dan benar dugaan saya booming fotografi belum genap dua tahun sudah layu.

Semoga dugaan saya salah, dan semoga saya bisa melihat kebangkitan teman-teman muda  penggila foto di Kediri tetap eksis.

Mulailah Dari Sekarang !!

Sebagai seorang jurnalis yang mulai menggeluti media sejak tahun 1997, kamera  bukanlah benda asing bagi saya. Sebab saat usia saya 6 tahun , Alhamdulillah orang tua saya sudah membelikan sebuah kamera yang lumayan canggih di era tahun 1980 an Yashica Electro 35.
Dan Alhamdulillah pula saya tetap mencintai foto hingga saat ini. Bahkan foto-foto hasil jepretan saya yang  tidak terlalu istimewa sejak  awal saya belajar hingga sekarang sudah mencapai jutaan foto dan semua saya wariskan kepada anak saya.

Kenapa diwariskan, ?? sebagai pengelola dan pemilik Kediri’s Photograph Museum ( Museum Foto Kediri) saya baru bisa mengambil hikmahnya hasil jepretan fotografer-fotografer sepuh 50 tahun lalu teryata sangat berguna saat ini. Banyaknya bangunan-bangunan kuno di Kediri yang telah hilang, kini bisa kita nikmati di museum saya. Dan ini  menggugah saya untuk hunting foto kuno bersama dua sahabat saya drg. Sutjahjo Gani dan Roni Yusianto. Walhasil hasil hunting kurang lebih 5 tahun mulai tahun 2004 kini ada hasilnya, ribuan mata telah menikmatinya dan semua kagum dengan foto masa lalu dalam beberapa pameran yang kami gelar mulai tahun 2006. Belum terlambat, begitu kata hati saya untuk mengikuti jejak fotografer – fotografer tua yang kini hasil jepretanya nangkring di museum saya. Bahkan sampai saat ini ada sahabat saya,  fotografer “sepuh” di Kediri yang masih hidup dan terus berkarya meski usianya telah mencapai 87 tahun, dia adalah Om Isyak Paramarta. Om Isyak ini adalah fotografer yang berkarya sejak tahun 1942, luar biasa, dan beberapa kali pula karyanya saya sertakan dalam pameran saya yang jumlahnya mencapai ratusan.  

Jangan Takut Salah Untuk Berkarya

Sebagai penggiat kebudayaan, karena saya mencintai budaya, fotografi adalah saksi dari perjalanan kehidupan saya. Dan saya yakin apa yang menjadi pilihan hidup saya ada manfaatnya. Dan Alhamdulillah apa yang menjadi keyakinan saya terbukti, kuncinya hanya satu kalimat ” Jika saya salah memfoto maka saya akan mengulanginya menjadi lebih baik” Kecintaan saya terhadap foto budaya membawa saya bagaimana mencintai budaya dengan foto, dan baru-baru ini saya lakukan pemeran foto tentang budaya, khususnya situs-situs purbakala kerjasama dengan teman-teman Pelestari Sejarah Budaya Kediri (PASAK).

Mereka sangat hobi blusukan, dan memiliki banyak foto tentang situs purbakala baik di Kota maupun Kabupaten Kediri. Agar bisa dinikmati saya ajak mereka pameran di Museum Mastrip areal Perpustakaan Umum Kota Kediri Jl. Diponegoro mulai 19-21 Oktober. Dan luar biasa, pengunjung pameran yang dibuka walikota ini hampir mencapai 1000 orang. Tidak hanya disitu, foto-foto tentang situs purbakala dan cagar budaya yang jumlahnya mencapai 110 foto ini kembali di pamerkan di acara lomba menulis esai sejarah pada 28 Oktober lalu di Pemandian Kwak Tirtoyoso, tanggal 9-11 Nopember di Museum Trowulan dalam rangka ulang tahun Majapahit ke 781 dan terakhir di pamerkan di Paguyuban Garuda Muka, di Jl.Airlangga Kota Kediri dalam rangka grebek Suro 1434 H.

Keyakinan saya tetap, foto yang kita miliki pasti akan bermanfaat bagi masa depan anak cucu kita, warisi mereka dengan foto, sebab pasti akan ada nilainya bagi perkembangan informasi pada tahun mendatang.

Lebih Suka Memfoto Model Daripada Situs Purbakala.

Satu hal lagi, dari hasil pantauan saya, fotografer di Kediri saya berani nyatakan mereka lebih suka memfoto model daripada memfoto situs purbakala atau benda cagar budaya. Sebab dari beberapa kali lomba foto budaya , sangat minim peserta yang mau mengikuti lomba, paling banyak hanya mencapai 25 orang, padahal fotografer di Kediri jumlahnya ribuan.

Naïf menurut catatan saya, jika embel-embel sebagai fotografer, tapi kesukaanya hanya memfoto model, namun tidak berani mengikuti lomba-lomba foto atau berkarya dengan mengedepankan foto-foto sosial. Hasil karyanya tidak murni dengan mengandalkan photoshop, untuk menutupi kekuranganya.

Saya bukan fotografer profesional,dan saya masih terus belajar,  tapi saya harus malu jika hanya menjadi fotografer model. Saya tidak mau sombong, beberapa karya foto saya di pakai oleh Thomson Reuters Indonesia sejak tahun 2003.

Dan satu lagi, kalaupun mau ikut lomba foto, tak kalah pentingnya dari beberapa lomba fotografi yang kami adakan, ternyata banyak fotografer tidak memperhatikan tema lomba. Mereka lebih memilih mengambil gambar semaunya sendiri tanpa memenuhi peraturan atau rambu-rambu yang  telah ditetapkan.

Wal hasil kerja keras saat pengambilan gambar menjadi sia-sia, sudah rugi waktu, tenaga dan juga biaya. Ujung-ujungnya dongkol dan males untuk mengikuti lomba lagi.

Misalnya yang baru-baru ini diadakan oleh UKM Fotografi STAIN Kediri – Lomba Foto Budaya dengan tema ” Selamatkan Cagar Budaya dan Situs Purbakala Kota Kediri” ternyata banyak peserta lomba yang keluar jalur. Kalau memang belum tau apa itu benda cagar budaya dan apa situs purbakala, harusnya mereka membaca UU Nomer 11/2010 tentang Cagar Budaya.

Mungkin catatan perjalanan saya bisa menjadi motifasi bagi teman-teman, dan mohon maaf jika melukai hati kalian semua. Saya pengen kalian besar dan membesarkan dunia fotografi Indonesia, bermanfaatlah meski hanya untuk pribadi anda dan keluarga anda. Salam inspirasi. (***)

Posted from WordPress for Android

One thought on “Sebuah Catatan  Fotografi di Kediri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s