Merah Putih Dikibarkan di Kediri Pada 1292 M

Merah Putih Lebih Dulu Dikibarkan di Kediri (Foto : Istimewa)

KEDIRI- Setiap tanggal 10 Nopember, bangsa Indonesia selalu memperingati hari pahlawan. Peringatan tersebut merupakan sebuah penghormatan “arek-arek Suroboyo” yang dengan gigih berani mengorbankan nyawa mereka demi mempertahankan kemerdekaan RI. Dimana ujungnya adalah perobekan kain warna biru di bendera Belanda. Namun apakah ada yang tau, bahwa merah putih juga pernah dikibarkan di Kediri pada tahun 1292 ?

Tak banyak yang tau tentang itu, namun Prasasti Kudadu menyebutkan saat kemenangan Kediri yang sebelumnya merupakan jajahan Singasari, Jayakatwang  sebagai Raja Kediri melakukan pemberontakan terhadap  Kartanegara. Kemenangan atas Singasari itulah ditandai dengan pengibaran bendera merah putih, seperti yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945.

Meski, kemenangan itu tak berlangsung lama, namun ada satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa sebelum negara Indonesia menetapkan merah putih sebagai bendera negara, Kerajaan Kediri sudah mengibarkan merah putih sebagai wujud kemenangannya.

Sebagai warga Kediri, selama ini tak memiliki kebanggaan sama sekali terhadap merah putih, bahkan tak ada yang memperingati pengibaran bendera merah putih tersebut. Dan yang lebih disayangkan prasasti Kudadu  yang ditemukan di lereng Gunung Penanggungan pada masa Belanda tersebut barangnya sudah raib entah kemana.

Kita hanya bisa mengutip isinya antara lain sebagai berikut Prasasti Kudadu berangka tahun 1216 Saka (11 September 1294), dikeluarkan oleh Kertarajasa Jayawarddhana (Wijaya) dalam rangka memperingati pemberian anugerah kepada pejabat desa (rama) di Kudadu, yang berupa penetapan desa Kudadu menjadi daerah swatantra.

Dengan penetapan ini, maka desa Kudadu tidak lagi merupakan tanah ansa bagi Sang Hyang Dharmma di Kleme. Sebab muasal desa Kudadu memperoleh penghargaan/anugerah raja ialah karena desa ini (Kudadu) telah berjasa memberikan perlindungan dan bantuan bagi raja (Wijaya) pada saat beliau masih belum menjadi raja, dan bernama kecil Nararyya Sanggramawijaya, pada waktu beliau sampai di desa Kudadu karena dikejar musuh (Jayakatwang).

Nararyya Sanggramawijaya sampai mengalami kejadian demikian itu karena dahulu raja Kertanegara yang telah wafat di alam Siwa-Buda (dicandikan di Singosari) gugur karena serangan raja Jayakatwang (Jayakatyeng, Kitab Pararaton menyebutnya dengan nama Aji Katong) dari Gelang-Gelang (Kadiri), yang berlaku sebagai musuh, menjalankan hal yang amat tercela, menghianati sahabat dan mengingkari janji, hendak membinasakan raja Kertanegara di Tumapel (Singhasari).

Pada waktu pasukan Jayakatwang terdeteksi telah sampai di desa Jasun Wungkal, Wijaya dan Sang Arddharaja (anak Jayakatwang yang telah dipercaya oleh Kertanegara) diperintahkan oleh raja Kertanegara untuk menghadapinya. Setelah Wijaya dan Arddharaja berangkat dari Tumapel (Singhasari) dan telah sampai di desa Kedung Peluk, di situlah pertama kali pasukan Wijaya bertemu dengan musuh, bertempurlah pasukan Wijaya dan musuh dapat dikalahkan, serta melarikan diri dengan tidak terhitung jumlah pasukannya yang gugur. Majulah pasukan Wijaya ke desa Lembah, tidak ada musuh yang dijumpai karena semuanya telah mundur tanpa memberikan perlawanan.

Pasukan Wijayapun maju terus, melewati Batang, dan sampai di desa Kapulungan. Di sebelah Barat desa Kapulungan itulah pasukan Wijaya bertemu dan bertempur kembali dengan musuh, musuh dapat dikalahkan, melarikan diri dengan menderita banyak kerusakan. Pasukan Wijaya bergerak maju terus dan sampai di desa Rabut Carat. Dan ketika sedang beristirahat datanglah musuh dari sebelah Barat, maka berperanglah pasukan Wijaya dengan mengerahkan kekuatan penuh, musuh dapat dikalahkan serta melarikan diri dengan  kehilangan banyak anggota pasukan.

Sepertinya musuh telah habis dan mengundurkan diri. Tetapi pada saat yang bersamaan terlihatlah panji-panji musuh berkibaran di sebelah Timur desa Haniru, merah dan putih warnanya (‘ …. ring samangkana, hana ta tunggulning satru layu-layu katon wetaning Haniru, bang lawan putih warnnanya …,’

“ Prof. M. Yamin menafsirkan panji-panji pasukan Kadiri itu berwarna merah-putih). Melihat panji-panji itu bubarlah pasukan Sang Arddharaja, melakukan penghianatan, lari tanpa sebab menuju ke Kapulungan, itulah permulaan rusaknya pasukan Wijaya,” kata Mubarok yang juga pemerhati sejarah Kediri ini. (***)

Pustaka : http://majapahit1478.blogspot.com/p/majapahit.html?m=1

2 thoughts on “Merah Putih Dikibarkan di Kediri Pada 1292 M

  1. Ping-balik: Bangkitnya Bulutangkis dan Kemajuan Sepak Bola | Satria Putra Adiguna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s