PENEMUAN BANGUNAN KUNO DI CANGKRING DIPASTIKAN BANGUNAN CANDI

Situs Cangkring (Foto GB)

Situs Cangkring (Foto GB)

KEDIRI- Penemuan   benda-benda yang diperkirakan peninggalan zaman Kerajaan Kadiri itu di areal persawahan Dusun Babadan, Desa Sumber Cangkring, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri beberapa hari lalu diyakini Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan merupakan bagian dari bangunan candi.

 

 

 

Menurut Kepala Bp3 Trowulan, I Made Kusumajaya Indikasi itu juga diperkuat dengan adanya sungai kecil, dua buah umpak (alas tiang rumah dari batu), dan batu besar di sekeliling situs tersebut.

“Adanya relief bergambar Kala dan banyaknya batu bata kuno yang berserakan ini mengindikasikan di dalam tanah ini ada bangunan berbentuk candi,” kata di lokasi penemuan benda cagar budaya di Dusun Babadan, Rabu (10/9)

 

Menurut Made, Ia perkirakan  bentuk arsitektur candi di Dusun Babadan itu sama dengan candi-candi yang ada di Jawa Tengah yang dibangun pada masa transisi Kerajaan Mataram Hindu.

 

 “Ini sesuai dengan Prasasti Empu Senduk yang menjelaskan, bahwa adanya perpindahan peradaban dari Jateng ke Jatim pada masa kerajaan dulu karena adanya wabah penyakit, bencana alam, dan serangan musuh,” ujar Made menambahkan

 

Namun demikian, lanjut dia, bukan tidak mungkin dalam perkembangannya candi yang ada di Dusun Babadan itu kemudian berubah menjadi areal pemukiman masyarakat Jawa pada abad ke-12.

 

“Kemudian kalau melihat fragmen-fragmen yang ditemukan warga bisa disimpulkan, bangunan candi itu rusak akibat bencana alam,” katanya.

 

 

Seperti diketahui Penggali batu bata di Kabupaten Kediri , secara tidak sengaja kembali menemukan beberapa benda peninggalan bersejarah pada Selasa (9/9).

 

Benda-benda yang diperkirakan peninggalan zaman Kerajaan Kadiri itu hingga Selasa sore ini masih berserakan di areal persawahan Dusun Babadan, Desa Sumber Cangkring, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri.

 

Syai’in (47) dan dua orang temannya, Hasan (27) dan Suprapto (23) tak menyangka jika di dalam tanah yang digali untuk bahan batu bata di tanah kas Desa Sumber Cangkring itu terdapat benda peninggalan bersejarah.

 

” Kami memang bekerja membuat batu-bata, seperti biasa, kami bertiga menggali tanah milik Pak Imam Syafi’i (Kaur Keuangan Desa Sumber Cangkring) untuk membuat batu bata,” kata Syai’in mengungkapkan awal penemuannya itu.

 

Ditambahkan Syai’in pada saat menggali tanah di sebelah timur lapangan sepak bola Dusun Babadan itu, tiba-tiba cangkulnya  mengenai batu cadas, Kamis (28/8) lalu. Dengan hati-hati ketiga kuli itu menggali tanah di sekitar batu cadas tadi.

 

Setelah diangkat dari kedalaman satu meter, ternyata batu tadi berupa fragmen gapura candi dengan relief berupa “Kala” sepanjang 48 sentimeter, tebal 35 sentimeter, dan lebar 45 sentimeter.

 

Dua hari kemudian ketiga orang itu tetap melanjutkan pekerjaannya membuat batu dengan menggali tanah yang berjarak sekitar dua meter sebelah selatan tempat ditemukan gapura candi.

 

Namun di kedalaman 1,45 meter, Syai’in dan kawan-kawan kembali menemukan benda aneh, Sabtu (30/8) lalu. Mereka pun menggalinya dengan hati-hati.

 

Saat diangkat dari dalam tanah, benda tersebut berupa arca Dwara Pala setinggi 98 sentimeter dengan ketebalan 76 sentimeter dan lebar 28 sentimeter.

 

Hari-hari berikutnya mereka kembali menjalankan aktivitasnya menggali tanah untuk bahan batu bata. “Setelah berselang beberapa hari, kami kembali menemukan benda aneh, Minggu (7/8),” katanya.

 

Benda yang ditemukan dalam galian sebelah timur arca Dwara Pala itu, bentuknya mirip kepala dewa setinggi 48 sentimeter dengan ketebalan 35 sentimeter dan lebar 45 sentimeter.

 

Sekitar satu meter di bawah kepala dewa tadi, Syai’in dan kawan-kawan juga menemukan sebuah arca Ganesha yang tingginya hanya 16 sentimeter, tebal 17 sentimeter, dan lebar 17 sentimeter.

 

Atas penemuan di lahanya oleh oleh anak buahnya tersebut Imam Syafi’i (Kaur Keuangan Desa Sumber Cangkring) kemudian melaporkan temuan tiga warga Dusun Babadan itu kepada petugas kepolisian, lokasi penemuan empat buah benda bersejarah itu mulai dipasangi garis polisi sejak Selasa pagi.

 

“Karena sudah ada garis polisi seperti ini, maka kami tidak diperkenankan lagi untuk melanjutkan pekerjaan membuat batu bata,” kata Imam Syafi’i.

 

Sekedar diketahui lokasi penemuan empat benda di Dusun Babadan itu berjarak sekitar tujuh kilometer dari lokasi penemuan Benda Cagar Budaya (BCB) Situs Tondowongso di Dusun Tondowongso, Desa Gayam, Kecamatan Gurah

 

Untuk memastikan temuan tersebut BP3 Trowulan  selanjutnya akan berkoordinasi  dengan Balai Arkeologi Yogyakarta karena benda-benda yang ditemukan warga Dusun Babadan mirip dengan benda-benda yang ditemukan warga di Dusun Tondowongso, Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri pada 2007 lalu. Balai Arkeologi Yogyakarta sendiri sebelumnya telah melakukan penggalian tahap pertama Situs Tondowongso. (aro)

 

6 thoughts on “PENEMUAN BANGUNAN KUNO DI CANGKRING DIPASTIKAN BANGUNAN CANDI

  1. Dengan penemuan ini kita berharap agar seluruh budaya di Indonesia terus dilestarikan, dan siapa tahu di Indonesia di temukan kalender canggih.

  2. MELIHAT DAN MENGANALISA DARI NAMA DUSUNNYA SAJA (BABADAN), KITA BISA MENDUGA KALO DULU PERNAH ADA PEMBABATAN HUTAN ATAU APA SAJA YANG ADA DIATAS TANAH DARI DAERAH TERSEBUT.

  3. Ping-balik: Menelusuri Kemegahan Kerajaan Kadiri yang Hilang « D'TraVeLLers

  4. Ping-balik: Menelusuri Kemegahan Kerajaan Kadiri yang Hilang – D'TRAVELLERS

  5. Ping-balik: Menelusuri Kemegahan Kerajaan Kadiri yang Hilang - D'TRAVELLERS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s