TAN MALAKA DIDUGA DIKUBUR DUA KALI DI SELOPANGGUNG

Poeze sedang berbincang dengan Tolu, Saksi Sejarah di Selopanggung

Poeze sedang berbincang dengan Tolu, Saksi Sejarah di Selopanggung

Oleh : Imam Mubarok Wartawan RADAR Surabaya

 

 

Penulusuran sejarawan Belanda Dr Harry A. Poeze yang yang juga Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda Untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) untuk mengungkap lokasi makam Tan Malaka atau Sutan Ibrahim masih saja diteruskan hingga sekarang. Ia bersama keluarga Tan Malaka mengunjungi  lokasi makam di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri, Kamis (24/7).

Kedatangan peniliti Belanda dan keluarga Tan Malaka ke Desa Selopanggung itulah  diperkirakan Pahlawan Nasional (Kepres 53/1963,red)  itu dibunuh oleh Brigade Sikatan di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri sekitar tahun 1949

Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatra Barat, 2 Juni 1897 – wafat di Kediri Jawa Timur, 21 Februari 1949  adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin komunis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba.

Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kedatangan Poeze didampingi oleh dua keluarga Tan Malaka yakni Zulfikar Kamarudin dan HM Ibarsyah Ishak, SH yang juga Government Relation Pusat Tamadun Melayu Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Mereka datang di Selopanggung setelah membaca tulisan Imam Mubarok (terbit di harian RADAR Surabaya pada 15-16 Agustus 2007,red),” Saya berterimakasih kepada Mubarok berkat tulisan anda kami semua akhirnya kesini untuk mengetahui lebih dekat apa yang yang ada tulis di koran dan blog,” kata Poeze pada RADAR Surabaya.

Selain mengunjungi lokasi makam yang diperkirakan makam dimana Tan Malaka dikubur, rombongan juga mengunjungi rumah Tolu (85). Tolu adalah cucu dari Mbah Yasir yang rumahnya ditempati Tentara Republik Indonesia (TRI) pada Agresi Belanda II tahun 1948.

Poeze sedikit menyayangkan karena bekas rumah Mbah Yasir itu telah rata dengan tanah dan tidak ada lagi bukti berupa bangunan fisik dimana Tan Malaka ditawan dan kemudian dibunuh.

Dalam riset Harry A. Poeze  menyatakan Tan Malaka ditembak mati tanggal 21 Februari 1949 oleh Brigade S atas perintah Letnan Dua Sukotjo . Eksekusi yang terjadi selepas Agresi Militer Belanda kedua  itu didasari surat perintah Panglima Daerah Militer Brawijaya Soengkono dan Komandan Brigade-nya Letkol Soerahmat.

Hal ini juga diperkuat dalam buku Otobiografi Letkol Soerahmat (Komandan Brigade S, tinggal di Kediri) yang ditulis salah satu putranya Ir Suyudi memang menyebutkan bahwa Brigade Sikatan atau yang lebih dikenal dengan Brigade S adalah yang menembak mati Tan Malaka di Kediri pada 21 Pebruari 1949.

Penangkapan hingga penembakan mati Tan Malaka oleh Briagade S atas perintah Petinggi militer di Jawa Timur  menilai seruan Tan Malaka yang menilai penahanan Bung Karno dan Bung Hatta di Bangka menciptakan kekosongan kepemimpinan serta enggannya elite militer bergerilya dianggap membahayakan stabilitas.

Mereka pun memerintahkan penangkapan Tan Malaka yang sempat ditahan di Desa Patje Nganjuk dan akhirnya dieksekusi di Selopanggung Kediri.

”Setelah melihat makam yang tadi yang berdekatan dengan makam Mbah Selopanggung, kami yakin bahwa sebelumnya ada kuburan lain dimana Tan Malaka akhirnya dipindah kesini,” kata Poeze.

Hal ini berdasarkan keterangan Tolu pada RADAR Surabaya dan Poeze yang menyebutkan bahwa di belakang pekarangan kakeknya  almarhum Mbah Yasir  (sekarang milik Lugiyo) ada tanah ukuran 4 X 4 meter dimana rumput tidak mau tumbuh dan sampah tidak bisa masuk.

“Meskipun agak berbau mistis ada dugaan kuat sebelum dikuburkan ke pemakaman yang berada di Ledokan berdekatan dengan makam Mbah Selopanggung yang membuka desa ini, Tan Malaka dikuburkan di lokasi ini,dugaan kami ini kuat, sebab ini juga dalam rangka untuk menghilangkan jejak oleh Pasukan Brigade S” ujar Poeze.

Lokasi yang dimaksudkan Poeze tersebut tepat ditimur lokasi dimana berkas-berkas yang dibawa pasukan Brigade S dibakar selama satu minggu tidak habis  sebelum akhirnya pasukan Brigade S meninggalkan Desa Selopanggung.

Disinggung tentang lokasi Tan Malaka yang tewas dan dibunuh di pinggir Sungai Brantas Desa Petok Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri Poeze mambantah keras,” Yang tewas dan dimakamkan disana itu bukan Tan Malaka tetapi anak buahnya yang berjumlah tiga orang. Dugaan kuat kami Tan Malaka berada di Desa Selopanggung,” katanya.

Oktober Dilakukan Pembongkaran Lokasi yang Diduga Makam Tan Malaka

UNTUK MEMBUKTIKAN bahwa Tan Malaka tewas dan dikubur di Desa Selopanggung, keluarga Tan Malaka dan juga dibantu Dr Harry A Poeze akan melakukan pembongkaran dua tempat dimana di duga Tan Malaka dimakamkan.

Keterangan tersebut disampaikan HM Ibarsyah Ishak, SH keluarga Tan Malaka yang melakukan penelusuran jejak Tan Malaka bersama Poeze sejak tahun 1985

“Insya Allah Oktober atau tepatnya setelah puasa nanti kita akan melakukan pembongkaran di beberapa lokasi di Selopanggung yang kami duga tempat dimana Tan Malaka dimakamkan,” kata Ishak pada RADAR Surabaya.

Dalam pembongkaran nanti pihaknya akan bekerjasama dengan Departemen Sosial RI yang sebelumnya telah berjanji akan memback up penelusuran Tan Malaka ini.

”Pokoknya sebelumnya kita akan melakukan koordinasi dengan semua pihak agar penelusuran ini bisa lancar dan juga akan melibatkan tim forensik dan tidak menutup kemungkinan juga akan ada test DNA untuk memastikan bahwa yang kita gali nanti adalah jasad Tan Malaka, sebab kejadian tersebut sudah hampir 60 tahun yang lalu,” pungkas Ishak.

Selain melakukan kunjungan ke Selopanggung, rombongan juga mencari sumber-sumber yang lain yang masih berkaitan dengan Tan  Malaka yang ada di Kota dan Kabupaten Kediri. (***)

 

 

 

 

2 thoughts on “TAN MALAKA DIDUGA DIKUBUR DUA KALI DI SELOPANGGUNG

  1. Menurut saya, makam bung TAN MALAKA belum saat nya terungkapkan, sebab dia pernah mengatakan bahwa, setelah kematian saya ke 50 kali aku tidak nampak oleh manusia.
    menurut Bapak saya, TAN MALAKA pernah datang ke Kampung Merdeka, kecamatan siempat nempu hilir, kabupaten Dairi, provinsi sumatra Utara. yang maktu itu katanya, namanya disebut BUSS THAMI.

  2. kebetulan saya juga baru pulang dari dusun pahlawan dan dusun merdeka. sewaktu saya melakukan survay kondisi hutan di dua desa yang berbatasan dengan taman nasional gunung leuser. secara kebetulan saya menanyakan sejarah asal dusun tersebut, yang menurut saya agak beda namanya karena tidak ada memakai bahasa batak ataupun pak-pak. dengan mantap warga di dua dusun tersebut mengatakan bahwa nama kampung ini di berikan oleh Pak Bustami, yang lebih lanjut dikenal dengan Tan Malaka. saya jadi tertarik, lalu coba menjumpai warga desa yang tua di dusun tersebut. kami berbincang, dan dia mengatakan bahwa dia datang kekampung tersebut tahun 1941. pada tahun 1948-an ada datang orang dari kota tangah (aceh) kekampung ini. dia mengajarkan politik kepada masyarakat. dan sempat memabgun sekolah didesa ini yang kemudian tempat tersebut dikenal masyarakat dengan nama kenali jasa utuk mengenang perjuangan bapak bustamin di desa ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s