Normal

Diperiksa Psikiater 1.5 jam, Irfan Pelaku Pembunuhan Balita Dinyatakan Normal

KEDIRI–RADAR- Irfan Efendi (12) tersangka pembunuhan Fisal Amanullah (4) Kamis (7/12) menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa di RS Bhayangkara Kota Kediri. Bocah kelas 6 SDN Sidomulyo Kecamatan Semen itu diperiksa Kompol Dr Ronny Subagyo SpKj selama 1.5 jam di ruang psikiatri.
”Setelah melakukan serangkaian tes seperti wawancara dan menyuruh Irfan menggambar, saya tak mendapatkan tanda-tanda gangguan jiwa pada anak itu. Ia melakukan hal itu, karena jengkel dan marah kepada korban,” ungkap Ronny Subagyo seusai memeriksa kondisi kejiwaan tersangka pembunuhan itu.
Irfan tiba di RS Bhayangkara pukul 10.45 didampingi dua penyidik Satuan Reskrim Polres Kediri. Ia mengenakan seragam sekolah batik biru, dan celana cokelat. Sejumlah wartawan yang menunggu di pintu gerbang, kecolongan meliput kedatangan Irfan.
Kedatangan tersangka baru diketahui setelah Ny Supraptini (41) duduk di depan ruang psikiatri. Ibu dua anak itu, hanya bisa menutupi wajahnya ketika ditanya keberadaan IRF. ”Ia sudah masuk ke dalam ruang dokter bersama ayahnya,” ungkapnya sambil beranjak menuju ke dalam ruangan.
Seperti diberitakan, Irfan merupakan tersangka tunggal dalam kasus pembunuhan dengan korban Fisal Amanullah, warga Desa Petok, Kecamatan Mojo, Kediri, Selasa (5/12) sore.
Korban pembunuhan ditemukan di dalam mobil VW Combi yang diparkir di dalam gudang bengkel milik Suwardi. Saat ditemukan, korban sudah tak bernyawa. Dugaan sementara, pembunuhan dilakukan karena tersangka jengkel dan marah kepada korban karena sering diejek dengan kalimat goblok.
Kini tersangka Irfan diamankan di Mapolres Kediri guna dilakukan penyidikan. Pemeriksaan kondisi kesehatan jiwa Irfan dilakukan dengan didampingi kedua orang tuanya. Awalnya hanya Irfan yang duduk berhadapan dengan Dr Ronny di dalam ruang konsultasi berukuran 3 x 3 m2.
Setelah berbicara sekitar 15 menit, Irfan kemudian didampingi Ahmad Yani, ayah kandungnya. Pemeriksaan yang melibatkan ayah kandung itu, berjalan selama 30 menit. Selanjutnya, sulung dua bersaudara itu didampingi Supraptini hingga pemeriksaan selesai sekitar pukul 12.30 .
Selanjutnya tersangka dibawa kembali ke Mapolres Kediri. ”Anak ini hanya berkembang pada lingkungan yang pola asuhnya cukup keras,” kata dr Ronny mencoba menganalisa kejiwaan Irfan.
Ia melanjutkan, pola asuh yang cukup keras kemudian ditambah tayangan-tayangan kekerasan di media cetak maupun elektronik seperti smack down, sangat berdampak bagi perkembangan Irfan. Dalam terori perkembangan, seusia Irfan merupakan fase identifikasi atau mencari idola.
Nah karena sering menonton smack down, maka Irfan terinspirasi gulat ketika marah. ”Tersangka ini jengkel atau marah karena korban tidak hormat pada orang lebih tua,” terangnya.
Irfan tak bisa menahan kejengkelannya, hingga terjadi tragedi memilukan Selasa (5/12) sore. Soal perasaan tidak merasa bersalah, mandi, kemudian berangkat mengaji, menurut dr Ronny, bukan tanda-tanda psikopatologi. Itu hanya kecenderungan kelainan jiwa. ”Hal itu bisa dianalisa ketika umurnya mencapai 18 tahun,” tukasnya.
Dr Ronny mengimbau, kepada orang tua harus mewaspadai tayangan-tayangan kekerasan di televisi. Jika tak ada pembatasan, akan merangsang anak-anak untuk terinspirasi dengan tayangan itu. Seperti alibi tersangka yang mengaku melihat dua orang mendatangi Fisal, menurut Irfan hal itu diperolehnya dari membaca koran.”Orang tua setidaknya harus memperhatikan ini. Sebisa mungkin anak-anak merasakan benar kasih sayangnya,” imbuhnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kasat Reskrim Polres Kediri, AKP Didit Prihantoro, mengatakan, pihaknya memang membawa IRF ke psyikiater. Ini dilakukan guna mengetahui kondisi kejiwaan bocah itu. Jika kesehatan jiwanya normal maka penyidikan berjalan terus. Ia akan dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman 20 tahun penjara ”Kita akan berkoordinasi dengan Bapas (Balai Pemasyarakatan) Kediri untuk mendampingi pemeriksaan tersangka,” ungkapnya.
Sementara itu, orang tua tersangka akhirnya pindah dari rumahnya di dekat rumah korban. Sejak Rabu kemarin, kondisi rumah keluarga Ahmad Yani dalam kondisi kosong. Pindahnya orang tua Irfan dipicu penolakan pihak keluarga korban ketika hendak melayat saat pemakaman Fisal, Rabu pagi.
Sedangkan untuk mendukung moral Irfan selama menjalani penyidikan, pihak orang tua tersangka akan mengadu ke Komnas Anak di Jakarta. ”Memang benar, tetapi silakan tanya kepada pengacara kami,” pinta Ahmad Yani.
Dihubungi terpisah M Ridwan SH, kuasa hukum tersangka Irfan , membenarkan rencana itu. ”Memang benar ada rencana itu, tetapi kita lebih memfokuskan pada pendampingan Irfan,” jawab Ridwan (aro)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s