Tuntut Hukuman Mati

Dikubur di Belakang Rumah di Pemakaman Keluarga
*Ibunya Tuntut Irfan Dihukum Seberat-Beratnya

Suasana duka masih nampak menyelumuti rumah keluarga Fisal Amanullah ( bukan M Faisal Amrullah seperti yang tertulis kemarin) bocah berumur empat tahun yang tewas secara mengenaskan ditangan Irfan Efendi (12) tetangganya sendiri akibat diejek dengan kalimat goblok. Sanak saudara yang rumahnya jauh masih terus berdatangan menyampaikan ucapan bela sungkawa pada keluarga Fisal.
Ditemui RADAR Surabaya di rumah duka, Dewi Ratnasari (21) ibunda Fisal nampak tegar meski anaknya baru saja dimakamkan di pemakaman keluarga belakang rumahnya. Dewi memperisilahkan RADAR Surabaya bertanya tentang anak pertamannya tersebut.
“ Silahkan mas, Fisal baru saja dimakamkan kira-kira tadi jam 06.30. Alhamdulillah semua berjalan lancar, sebab kalau pemakaman menunggu saudara yang jauh-jauh kelamaan, apalagi menunggu bapaknya yang masih perjalanan dari Batam,” kata Dewi dengan tegar menceritakan prosesi pemakaman Fisal.
Fisal Amanullah adalah pertama dari dua bersaudara anak pasangan Dewi Ratnasari (21) dan Joni Dwi Cahyono (27), adik Fisal Nuriwana Nisa Zara’ masih berumur 1,5 tahun.
Atas meninggalnya Fisal yang baru duduk di bangku Sekolah Taman Kanak-Kanak Kusuma Mulia kelas nol kecil Dewi mengaku sangat kehilangan,” Siapapun ibu yang ditinggal mati anaknya pasti akan seperti yang saya alami. Apalagi kematian anak saya sangat tidak wajar dan mengenaskan. Oleh karena itu tuntutan saya hanya satu nyawa harus dibayar dengan nyawa, Irfan harus dihukum mati,” pinta Dewi.
Ditambahkan Dewi, dalam keseharian Fisal adalah anak yang penurut dan rajin dalam belajar. Diusianya yang baru empat tahun anak kelahiran 7 April 2003 ini sudah cukup pandai.
” Dia sudah bisa menulis meskipun belum lancar, pandai bernyanyi, sudah cukup banyak lagu yang telah dihafalnya. Tidak hanya lagu-lagu yang diajarkan di sekolahannya saja tetapi juga lagu-lagu campursari dan yang paling disuka lagu yang judulnya Iwak Louhan,” ujar Dewi mengenang tentang keseharian Fisal.
Meski bertetangga dekat, menurut Dewi anaknya Fisal jarang bermain dengan Irfan. Seperti diketahui keluarga Irfan bertetangga dengan keluarga Dewi baru tiga bulan lalu.
“ Anak saya tidak begitu akrab dengan Irfan, si Irfan itu kayak anak hilang kalu dirumah. Sebab kedua orang tuanya jarang dirumah akhirnya seperti anak tidak terurus,” jelasnya.
Menurut Dewi seandainya anaknya pada sore itu tidak bermain ke bengkel milik Suwardi tempat dimana Fisal dibantai tentunya anaknya tidak akan mengalami nasib yang begitu tragis.
“Sore itu saya dan keluarga lagi duduk-duduk di beranda rumah dan irfan bermain sepeda. Dia sempat pamitan main ke rumah Deni temannya TK. Namun karena Deni tidak ada di tempat akhirnya dia pamitan cari buah kersen di belakang rumah pak Suwardi. Dia berjalan kaki karena mengaku capek naik sepeda,” ungkap Dewi.
Setelah ditunggu hingga sore tidak pulang- pulang, Dewi sang ibu sempat bertanya pada Supraptini (41) ibu tersangka Irfan. Karena menjawab tidak tahu akhirnya sang kakek Suhadi (70) mencari kesana kemari.
Hingga akhirnya saat Suhadi (70) mencari sang cucu di bengkel milik Suwardi tetangganya ia melihat darah menetes di bagasi mobil VW Kodok milik Suwardi (45).
Setelah dibuka dengan meminta bantuan Suwardi tubuh Fisal yang juga cucu Suhadi sudah dalam kondisi tidak bernyawa dengan mengalami luka jeratan pada leher, bekas pukulan benda tumpul pada paha, dan goresan silet pada tangan dan leher.
“Dikabari anak saya mati saya langsung lari ke TKP, saat saya datang bapak saya sudah menggendong Fisal yang sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Namun akhirnya dilarang dibawa pulang oleh beberapa warga menunggu polisi datang karena beberapa warga lapor ke Polsek Mojo. Saat itu saya bagaikan disambar petir di siang bolong,” kata Dewi.
Disoal kapan memberitahukan perihal nasib anaknya yang meninggal secara mengenaskan kepada suaminya,” Beberapa saat setelah anak saya ditemukan keluarga langsung menghubungi suami yang bekerja di Batam sebagai instalatir listrik. Dia sempat kaget dan ingin segera pulang, namun kerena jadwal penerbangan jam segitu di Batam tidak ada akhirnya perjalanan pulang ditunda, dan Insya Allah nanti sudah datang,” katanya.
Sementara itu Irfan Efendi tersangka yang duduk di kelas VI SDN Sidomulyo Kecamatan Semen, hingga kemarin masih diperiksa Sat Reskrim Polres Kediri. Keterangan dari Kasat Reskrim Polres Kediri AKP Didit Prihantoro dikonfirmasi saat RADAR Suraabaya menyatakan tersangka saat ini masih diperiksa dengan didampingi pensehat hukumnya M Ridwan.
“ Hasil pemeriksaan tersangka sudah merencanakan membunuh Fisal karena dendam sering diolok-olok. Pembunuhannya sendiri dilakukan usai mencari buah karsen, setelah turun Fisal dibekap hingga pingsan. Setelah pingsan korban dibawa kedalam mobil VW Kodok milik Suwardi yang kebetulan saat itu sedang sepi,” kata Didit.
Ditambahkan Didit, setelah berhasil dibawa masuk tersangka berusaha bagaimana cari menghabisi nyawa Fisal,” Dia menemukan tali rafia dibawah setir mobil kemudian dia gunakan untuk menjerat Fisal hingga akhirnya tewas. Tidak puas melihat Fisal yang sudah dalam keadaan tidak bernyawa Irfan juga melukai kaki, tangan, dan leher korban dengan menggunakan silet yang ia temukan dalam kotak peralatan mobil,” jelasya.
Untuk sementara Fisal ditahan di ruang penyidikan sambil menunggu koordinasi Badan Pengawasan Lapas. Terkiat akan dijerat pasal-pasal yang menjerat tersangka atas perbuatan sadisnya. Didit mengaku belum bisa memberikan penjelasan,” Tunggu mas kita pelajari kasusnya,” katanya( Imam mubarok)

One thought on “Tuntut Hukuman Mati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s