Pertemuan Langitan Final

Pertemuan Forum Langitan Final
*Antara Melanjutkan PKNU dan Tidak Membuat Partai

KEDIRI-RADAR- Pasca pertemuan kiai-kiai Forum Langitan membahas pendirian partai pengganti alternatif PKB yakni Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) di Ponpes Putri Al Falah Ploso Mojo Kediri, Sabtu (11/11) lalu, rencananya hari ini (besok,red) akan ada pertemuan final antara meneruskan membuat partai dan tidak di Ponpes Langitan Tuban.
Penjelasan tersebut disampaikan salah satu anggota tim 17 KH Idris Marzuqi yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri,Senin (20/11),” Insya Allah pertemuan langitan besok (hari ini,red) adalah pertemuan final dan itu yang kita harapkan. Sehingga kita tidak teromabang-ambing. Kalau memang membuat partai maka kita akan total untuk membidani, tetapi kalau tidak kita juga akan tinggalkan itu dan lebih mengutamakan menata umat dan santri,” kata Gus Idris panggilan Kiai dengan 10 ribu santri tersebut.
Disoal apakah ada bocoran terkait nama jika formula pertemuan tersebut tetap membahas partai baru. Sebab dalam pertemuan Ploso beberapa hari lalu hampir mayoritas kiai tidak setuju dengan nama belakang partai yang akan dilahirkan yakni Nasional Ulama. Para kiai hanya setuju dengan nama PK (Partai Kebangkitan) sementara terusan yang belakang akan dibahas dalam pertemuan di Langitan hari ini (21/11).
Seperti diberitakan RADAR Surabaya beberapa waktu lalu, pertemuan di Ponpes Putri Al Falah Ploso Kediri di kediaman KH Nurul Huda Djazuli salah satu anggota tim 17 berakhir “bengkerengan” antar kiai. Hingga akhirnya nama PKNU yang telah didaftarkan ke Departemen Hukum dan HAM dimentahkan oleh Forum Langitan sendiri.
Dalam pertemuan tersebut nampak sekali perpecahan di internal para kiai dan tim 17 yang bertugas melahirkan partai pengganti PKB dari hasil pertemuan di Ponpes Lirboyo pada 20 September lalu.
Dari pantauan RADAR Surabaya dalam pertemuan yang digelar setengah tertutup tersebut nampak ada dua kubu yang memiliki kepentingan.Antara lain kubu Cak Anam yang mendapat dukungan dari Gus Ubaidilah Faqih dari Ponpes Langitan Tuban dan kubu Syaifullah Yusuf yang didukung para kiai-kiai yang mempertanyakan pendirian PKNU yang dianggap menelikung para kiai, sebab banyak nama kiai yang dicatut oleh Cak Anam tanpa adanya persetujuan.
KH Nurul Huda Djazuli adalah salah satu kiai yang mengaku namanya dicatut oleh Cak Anam dalam pendaftaran PKNU,” Padahal dalam pertemuan di Lirboyo sebelum puasa lalu saya hanya tanda tangan daftar hadir. Namun kenyataanya tanda angan saya digunakan Cak Anam untuk mendaftarkan partai baru yang bernama PKNU, ini kan sudah salah,” kata Gus Dah panggilan akrab KH Nurul Huda Djazuli pada RADAR Surabaya.
Lebih jauh KH Nurul Huda Dzazuli menjelaskan, beberapa hari sebelum wafatnya Habib Anis Asegaf, Pasar Kliwon Solo, Jawa Tengah, 7 November lalu, beliau (Habib Anis,red) pernah beristikhoroh untuk memilih nama yang tepat untuk partai baru. Nama hasil istikhoroh tersebut adalah Partai Kebangkitan Najatul Ummah
Nama Najatul Ummah tersebut diyakni lebih bersifat legaliter dengan mengajak kepada seluruh umat untuk bangkit dalam memperbaiki kondisi bangsa dan umat. Sementara PKNU versi Cak Anam dianggap lebih elitis dengan hanya mencantumkan nama ulama.
Anehnya meski berkali-kali Choirul Anam menegaskan bahwa pendirian PKNU telah mendapat restu dari para kiai, namun giliran kiai siapa saja yang mendukung ia tidak bisa menyebutkan satu persatu,” Ya pokoknya ada lah termasuk salah satunya dari Langitan,” tukas Cak Anam.
Adanya bukti Ponpes Langitan mendukung Cak Anam mendirikan PKNU sangat terlihat ketika Gus Ubaid (Ubaidilag Faqih,red) yang menjadi moderator dalam pertemuan tersebut terkesan menyetir dan mengarahkan para kiai agar menerima dengan PKNU dengan alasan sudah terlanju didaftarkan dan didengar oleh masyarakat luas.
Meski berkali-kali diperingatkan agar Gus Ubaid tidak memaksakan kehendaknya salah satunya dari mantan Menteri BUMN era Presiden Gus Dur KH Rozi Munir yang juga turut hadir dalam pertemuan tersebut, tetap saha Gus Ubaid ada kesan “kong kalikong” dengan Cak Anam yakni tetap mengarahkan agar kiai menerima PKNU. Hal inilah yang menimbulkan pertanyaan besar oleh para kiai yang datang dalam pertemuan tersebut.
Mereka antara lain, KH Idris Marzuqi Lirboyo, KH Zainuddin Jazuli dan KH Nurul Huda Djazuli dari Ploso Mojo Kediri, KH Sholeh Qosim Sidoarjo, KH Ahmad Subadar, KH Warsun Munawwir Yogjakarta, KH Muhaiminan Gunardo Temanggung Jateng, KH Hasbullah Cilacap,KH Aniq Pati Jateng, KH Iskandar Jogjakarta, Gus Syaifullah Yusuf , KH Rozi Munir Jakarta, KH Yahya C Staquf Rembang
KH Idris Marzuqi dari Ponpes Lirboyo mengaku setuju dengan pendirian partai baru , namun ada pertanyaan besar apakah partai yang telah didaftarkan layak dijual atau tidak,” Kita masih sanksi PKNU layak dijual kepada umat, namun saya tetap setuju pendirian partai baru tapi bukan PKNU,” kata Kiai Idris.
Lain halnya dengan KH Idris, KH Zainuddin Djazuli secera tegas menolak,” Secara pribadi saya tidak mendukung didirikanya partai baru. Lebih baik kiai sekarang ini mengurus santri . Sebab jumlah pesantren salaf (tradisional,red) mulai berkurang . Hal ini diakibatkan serangkaian konflik internal, pribadi dan lain-lain,’ kata KH Zainuddin Djazuli.
Lalu bagaimana tanggapan KH Abdullah Faqih yang kemarin juga turut hadir dalam pertemuan tersebut terkait pendirian PKNU. Dimana Kiai Faqih selama ini dianggap menjadi kiblat para kiai. Meski berkali-kali “tebakannya” mbeleset seperti diungkapkan Gus Syaifullah Yusuf yang dengan berani mengkritik kiai sepuh tersebut.
” Dari hasil istikhoroh saya yang ada hanya bendera hijau dengan tulisan PK saja, bukan PKNU yang sekarang ini muncul. Untuk itulah perlu adanya pembicaraan tingkat lanjut terkait nama partai,” terang KH Abdullah Faqih.
Sementara itu dalam tanggapan akhir atas pendapat para kiai, Syaifullah Yusuf kembali menegaskan dihadapan para kiai bahwa apa yang dilakukan Cak Anam dengan mendaftarkan partai baru dengan alasan terlambat adalah kabar yang tidak valid.
“ Kalau itu alasanya itu maka Cak Anam terlalu mengada-ada, sebab pendaftaran itu bisa dilakukan sampai bulan Desember dan ini tidak ada aturan baku. Kalau kemudian ada kiai yang tidak tahu termasuk saya atas pendirian PKNU itu bukan berarti kami mengada-ada,” kata Gus Ipul.
Ditambahkan Gus Ipul karena banyak orang yang mendukung pembentukan partai baru namun karena namannya kurang menjual akhirnya banyak yang mundur,” Jika kemudian saya mempertanyakan ini bukan berarti saya ambisi. Saya justru akan mengatakan tidak tidak mau masuk dalam kepengurusan partai baru ini. Apalagi menjadi Ketua Umum, tugasnya sangat berat apalagi harus mengibarkan tinggi-tinggi bendera partai,” tambahnya.
Setelah perdebatatan panjang selesai melalui juru bicara para ulama, KH Abdurahman Khudori, para kiai sepakat untuk tetap solid dengan mendukung pembentukan partai baru.
“Perlu diketahui, para kiai hingga saat ini masih solid dan tidak pecah dalam menyikapi pembentukan partai baru ini. Hanya saja masih perlu dilakukan revisi atas partai tersebut, termasuk kepanjangan NU dalam PKNU,” jelas kiai yang akrab disapa Mbah Dur ini.
Menurutnya, singkatan nama PKNU (Partai Kebangkitan Nasional Ulama) seperti yang didaftarkan Choirul Anam kurang mendapat tanggapan positif dari para kiai.
Untuk itu tim 17 yang sudah dibentuk untuk membidani lahirnya partai baru paska keluarnya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) akan bertugas merumuskan nama baru dan serta melakukakan revisi terhadap langkah yang sudah diambil Cak Anam. (aro)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s