Sepakbola Jalanan

Reuni Lebaran Sepak Bola di Jalan Raya

Bagi pemuda Kelurahan Setono Pande Kecamatan Kota Kediri sepak bola ada olah raga yang paling mahal, lantaran mereka tidak memiliki lapangan sepak bola. Meski telah berusaha berkali-kali agar bisa bermain di Stadion Brawijaya, namun lobi tersebut selalu ditolak oleh managemen Persik Kediri. Wal hasil akhirnya akhirnya mereka memilih Jl Patimura yakni jalan utama Kota Kediri yang padat pertokoan dijadikan tempat bermain.
Meski tidak dilakukan siang hari permainan bola ini , namun setidaknya permainan mereka tetap saja mengganggu pengguna Jl Patimura yang tidak pernah sepi oleh orang lalu lalang dengan menggunakan kendaraan bermotor.
Selain bertujuan untuk olah raga, tradisi pemuda Setono Pande ini ternyata ini juga menjadi ajang reuni para pemuda ketika mereka pulang kampung dari perantauan saat lebaran tiba,” Pemuda yang masih menetap menjadi panitianya, dan mereka yang merantau biasanya juga ikut bermain saat lebaran seperti ini ,” kata Widodo koordinator sepak bola jalan raya ini pada RADAR Surabaya, Rabu dini hari ((25/10).
Ditambahkan Widodo permainan sepak bola jalanan sebenarnya dimulai sejak awal Ramadan namun puncaknya dilakukan pada hari Raya idul Fitri sampai hari kelima,” Ini sekedar menjadi ajang silaturohim antar pemuda yang pulang kampung. Disamping itu juga untuk melanggengkan tradisi para pendahulu kita,” tambahnya.
Ada yang menarik dalam permainan ini dibandingkan sepak bola pada umumnya. Yakni ketika salah satu tim kebobolan gawangnya, maka tim yang kalah melakukan push up secara ramai-ramai. Dalam sekali pertandingan aksi push up ini tidak hanya sekali dua kali dilakukan namun hingga berkali-kali, lantara gawang memang dibiarkan kosong tanpa penjaga gawang.
Selain itu dalam pertandingan ini juga tidak dibatasi oleh jumlah pemain yang biasanya hanya dibatasi 11 orang, tidak ada wasit, tidak ada penerangan keculai hanya mengandalkan lampu-lampu toko ,” Inilah yang membedakan antara sepak bola asli dengan sepak bola jalanan” ungkap Widodo.
Disoal apakah tidak pernah mendapat teguran dari aparat keamanan lantaran mengganggu pengguna jalan dan juga pemilik toko yang tentunya mereka sedang menikmati istirahat sebab sepak bola dilakukan mulai pkul 24.00 hingga pukul 03.00 dini hari.
“ Kami sudah kebal dengan peringatan dan teguran, namun saat kita desak apakah mereka bisa memberikan solusi ternyata tidak bisa, akhirnya kita so must go on saja,” kata Widodo.
Widodo dan kawan-kawan berharap kedepan mendapat perhatian dari pemerintah setempat, lantaran di Kota Kediri sudah tidak ada lagi tempat bermain. Ada ruang publik yang dekat dengan tempat para pemuda Setono Pande ini, namun sekarang “direbut” oleh Pemkot untuk memenuhi ambisinya yakni membangun Plasa Dhaha di sekitar lokasi alun alun.
Tidak hanya itu Pemkot yang juga kebingunan menata PKL dengan “terpaksa” akhirnya juga mengepras alun alun untuk dibuat kios para PKL. Walhasil ruang publik di Kota Kediri yang sangat dibutuhkan menjadi kebutuhan yang mahal. Lagi-lagi ini adalah ego pejabat yang ingin menjadikan kotanya tampak maju namun tanpa memperhitungkan perkembangan remajanya untuk merdeka dan merasa memiliki kotanya. (imam mubarok)

One thought on “Sepakbola Jalanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s