Petani Diperkarakan

Kembali Petani Diperkarakan PT BISI

KEDIRI- RADAR- PT Benih Inti Subur Intani (BISI) seakan tidak pernah ada habisnya memperkarakan para petani yang dituduh melakukan sertifikasi tanpa ijin atas benih jagung. Setelah puluhan petani diperkarakan dan berujung di penjara, kini kembali seorang petani atas Suyadi bin Kertomerjo (49) petani warga Desa Pule, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri dituntut hukuman penjara 1 bulan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Iwan dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri, Selasa (17/10).
Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Eri Mustianto dengan anggota Ansor Majid dan Muhammad Irfan itu, terdakwa tanpa didampingi pengacara.
Saat JPU Iwan usai membacakan tuntutan, Ketua Majelis Hakim mempertanyakan berkas tuntutan yang seharusnya diberikan kepada terdakwa, karena JPU hanya memberikannya kepada majelis hakim.
“Saya minta jaksa segera memberikan berkas tuntutan kepada terdakwa. Sangat tidak masuk akal jika anda menuntut seseorang, sementara orang yang anda tuntut tidak mengetahui apa yang anda tuntutkan,” kata Hakim Eri Mustianto kepada jaksa Iwan.
Atas teguran hakim, jaksa Iwan berjanji untuk menyiapkan esok harinya dan terdakwa diminta mengambilnya sendiri di Kejaksaan Negeri Kediri. Karena tidak didampingi pengacara, terdakwa Suyadi hanya mengangguk, mengiyakan. Padahal jika JPU tidak bisa menyediakan berkas tuntutan, seharusnya jaksalah
yang pro aktif mengirimkan ke terdakwa.
Menurut Jaksa, Suyadi terbukti bersalah melanggar pasal 55 ayat 1 UU No 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. “Untuk itu karena kesalahannya, kami menuntut terdakwa hukuman penjara 1 bulan penjara,” kata JPU Iwan.
Atas tuntutan itu, majelis hakim meminta terdakwa memberikan pembelaan pada tanggal 1 November 2006. Karena tidak memiliki pengacara, hakim mempersilahkan terdakwa membuat catatan di kertas untuk dibacakan pada sidang pembelaan terdakwa.
“Tapi sebelum seidang pembelaan terdakwa saya minta jaksa besok memberikan berkas tuntutannya agar bisa dipelajari terdakwa,” kata hakim Eri Mustianto.
Sementara Suyadi menyatakan tuduhan jaksa sama sekali tidak benar. Menurutnya, kasus itu bermula dari ketika dia mendapatkan benih jagung dari Rohman, warga Desa Kasreman, Kandangan, Kediri. Rohman memberi bibit jagung 18 kilogram seharga Rp 10 ribu per kilogram. Biaya bibit itu dibayar ketika panen.
“Ternyata sebelum panen, pada bulan Juli lalu malah dipanggil polisi dan disangka memalsukan bibit PT BISI. Padahal saya tidak tahu-menahu soal darimana asalnya bibit itu,” kata Suyadi.
Suyadi sempat bertanya kepada majelis hakim, mengapa Rohman justru tidak dipanggil ke persidangan, sebagai pemilik bibit jagung tersebut. Selain itu yang yang mendapatkan bibit jagung dari Rohman bukan hanya dirinya, tetapi masih banyak petani yang lainya.
Atas pertanyaan Suyadi, hakim mempersilahkan Suyadi menghadirkan Rohman atau Siswoyo ( mewakili petani yang lain yang juga membeli bibit kepada Rohman,red) jika memang bisa dianggap sebegai saksi meringankan. Sayangnya Suyadi tidak tahu prosedur pemanggilan karena dia tidak memiliki kuasa hukum.
Dian Pratiwi, Ketua LSM KIBAR (Kediri Bersama Rakyat) yang mendampingi Suyadi menyatakan, PT BISI dan PN Kabupaten Kediri sengaja merekayasa ketentuan yang diatur dalam UU No 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman untuk menjerat para petani.
Menurutnya sangat tidak masuk akal petani dipidana dengan tuduhan memalsukan dan menjiplak bibit. “Saya kira UU No 12/1992 sama sekali tidak mengatur soal itu,” kata Dian Pratiwi.(aro)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s