Lintas Budaya

Sebuah sorotan tentang Negeri Kediri yang menyimpan banyak sejarah baik tradisi lesan maupun tulis…..semoga bermanfaat. By Ki Barok

& Komentar

  1. Wayang Po Te Hi Diambang Kemusnahan

    Dampak peraturan tentang adat istiadat keturunan Cina oleh pemerintahan era Presiden Soeharto yang dituangkan dalam Instruksi Presiden no. 14/1967 yang mengatur agama, kepercayaan dan adat istiadat keturunan Cina ternyata mempunyai pengaruh besar.
    Peraturan ini diterjemahkan sebagai larangan atas berbagai bentuk ekspresi berkesenian. Salah satu yang terkena dampaknya adalah pertunjukan wayang Po Te hi.
    Pelarangan berkesenian di era Presiden Soeharto ini hampir mirip Gubernur VOC telah melakukan pelarangan terhadap kegiatan yang berhubungan dengan hiburan, khususnya tari-tarian tandak maupun pertunjukan
    wayang. Misalnya sebuah peraturan tertanggal 6 Desember 1751 dari J. Mossel, yang ditujukan kepada orang-orang Cina dalam suatu daerah imigrasi tertentu. Dalam peraturan itu ditetapkan syarat-syarat dan pajak-pajak yang berlaku bagi pertunjukan wayang wong. Mereka dikenakan pajak sekitar 500 ringgit. Alasannya, dalam pertunjukan itu sering disertai permainan judi yang merugikan banyak peserta, dan bagi penari-penari wanita tertentu kadang-kadang dihamburkan uang secara kurang bertanggungjawab

    Wayang Po Te Hi

    Kata Potehi berasal dari kata Poo berarti kain, Tay (kantong), Hie (wayang). Secara lengkap istilah Po Te Hi memiliki arti wayang kantong atau boneka kantong. Cara memainkannya adalah dengan memasukkan jari tangan ke dalam kantong kain dan menggerakkannya sesuai dengan jalannya cerita.
    Jumlah orang yang memainkan boneka ini ada 2 orang, masing-masing memegang 2 boneka. Dari kedua orang tersebut, satu orang adalah dalang inti, dan satu orang lagi asisten dalang. Dalang inti bertugas menyampaikan kisah atau lakon wayang. Sementara asisten dalang bertugas membantu dalang inti menampilkan tokoh-tokoh sesuai cerita.
    Di negeri asalnya yakni Tiongkok, wayang golek ini disebut boneka teater Cina. Tinggi 50-70 cm. Jenis Wayang ini ditemukan di Provinsi Hunan, Sichuan, Shanxi, Guangdong, Jiangsu. (Brosur Chinesisches Puppentheater, Museum Volkerkunde, Dahlem-Berlin,red). Di Jawa, istilah golek adalah sebutan untuk wayang golek Sunda.
    Kalau sebelum tahun 1967 pertunjukan wayang ini cukup meriah, maka setelah larangan-larangan yang diberlakukan para penguasa masa lalu diberlakukan keberadaannya langsung terancam musnah. Sepi order, sepi penonton, sepi apresiasi, sepi penerus.
    Namun geliat kebangkitan itu kini mulai tampak pasca larangan tersebut dicabut di era Presiden Abdurrahman Wahid, salah satunnya di Klenteng Tri Darma Tjoe Hwie Kiong Kediri. Sejak 11 Agustus dan berakhir pada 10 September kemarin digelar pementasan wayang Po Te Hi secara serial di halaman Klenteng. Sebagai dalangnya Kwato (54) satu-satunya dalang wayang Po Te Hi yang masih tersisa di eks Karesidenan Kediri.
    Pagelaran wayang ini digelar pada pukul 15.30 hingga 17.00 dan pukul 19.00 hingga 21.00. Lakon yang disampaikan pada masing-masing waktu berbeda. Misalnya, pada waktu siang digelar lakon Sie Bing Kwie (Kuda Wasiat), dan pada waktu malam lakon Ngoho Peng See (Lima Harimau Sakti).
    Ja Loen (60) salah satu warga keturunan yang setia menonton pertunjukan wayang Cina ini mengaku senang. Sebab semenjak tahun 1967 ia baru bisa melihat kembali wayang ini pada tahun 2006.
    Meski tak banyak yang menonton dan hanya beberapa orang saja, namun setidaknya pegelaran wayang Po Te Hi ini menjadi pemandangan menarik di Klenteng yang ada di Jl Yos Sudarso Kota Kediri.
    “Mumpung ada pertunjukkan maka saya manfaatkan untuk melihat pagelaran ini. Sebab kalau mau nanggap sendiri saya tidak punya uang. Pagelaran ini digelar berkat jasa baik salah satu Direktur PT Gudang Garam,” kata Ja Loen pada RADAR Surabaya.
    Namun Ja Loen sebagai generasi tua mengaku takut jika wayang Po Te Hi ini nantinya akan musnah. Sebab di Kediri tak satupun orang yang mewarisi bisa memainkan wayang ini.
    “Yang bisa ya hanya orang tertentu, seperti halnya yang main di Klenteng ini . Dia adalah Kwato orang Tulungagung dan jika ini tidak bisa segera diselamatkan, budaya Cina di Indonesia akan musnah,” kuatirnya
    Kekuatiran Ja Loen ini terbukti, khususnya Cina peranakan yang memberikan apresiasinya terhadap seni pertunjukan wayang Cina ini masih sangat minim hingga saat ini . (imam mubarok)

  2. Mbah Gleyor, Gerobak Peninggalan Bupati Kediri Tahun 1850-1889

    Bagi warga Kabupaten Kediri khususnya di wilayah selatan nama Mbah Gleyor sebutan bagi gerobak Bupati Kediri ke III Djojonagoro, tentunnya adalah hal yang tidak asing. Selaian tergolong langka dan aneh, gerobak yang telah berumur kurang lebih 150 tahun tersebut hingga kini masih terawat utuh meski terbuat dari kayu.
    Berhentinya gerobak bupati di wilayah Kandat saat itu juga menandakan berhentinya pula perjuangan Djojonagoro dalam melawan kompeni Belanda. Sebab ketika di Desa Kandat atau dulu disebut ‘kandek’ yang berarti berhenti, Djojonagoro ditangkap dan diasingkan Belanda ke Manado Sulawesi Utara hingga akhirnya meninggal disana dan dimakamkan berdekatan dengan makam Pangeran Diponegoro.
    Penangkapan Belanda terhadap Djojonagoro sendiri bukan tanpa alasan, yakni untuk menghentikan perjuangan melawan Kompeni Belanda yakni dengan cara memfitnah si bupati dituduh telah membunuh pemimpin Pabrik Gula (PG) Pesantren. Tak heran, pasca kepergian Djojonagoro sebagian penduduk Kediri waktu itu lebih waktu lebih akrab dengan memanggilnya sebagi Kanjeng Manado
    Walau telah meninggal, cerita tentang perjuangan Djojonagoro hingga kini masih dikenang masyarakat Kediri. Apalagi, gerobak yang membawa bupati hingga ke Kandat, sampai sekarang masih utuh dan tersimpan baik.
    Keadaan gerobak Mbah Gleyor tergolong bagus. Bahkan, masih dapat dibilang kokoh untuk ukuran gerobak yang sudah digunakan antara tahun 1850-1889. Kendati di beberapa sisi, khususnya ruangan untuk penumpang, kayunya sudah mulai lapuk.
    Roda Mbah Gleyor terbuat dari kayu jati utuh. Sementara, sisi kanan dan kiri ruang penumpang, ada yang mengatakan dibuat dari kayu jati, tetapi ada pula yang berpendapat dibikin dari kayu cendana.
    Nama “gleyor” diambil dari istilah bahasa Jawa gleyar-gleyor, yang berarti belak-belok, atau berjalan dengan tidak lurus. Ini karena roda yang terbuat dari kayu utuh itu berputar bersama asnya.
    Warga Desa Kandat, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, menyimpan gerobak yang dijuluki Mbah Gleyor ini, di bawah rumah-rumahan di halaman sebuah mushala. Rumah-rumahan itu dibangun atas biaya mantan Bupati Blitar Imam Muhadi.
    Ada hubungan apa Imam Muhadi dengan Bupati Djojonagoro ? Menurut Imam Muhadi beberapa waktu lalu pada RADAR Surabaya, waktu Djojonagoro ditangkap sang istri bupati berhasil diamankan oleh Ki Nala sopir gerobak dan disembunyikan di daerah Slemanan Kabupaten Blitar.
    Saat itu Ki Nala tidak hanya mengamankan istri sang bupati tapi juga beberapa keluarganya yang ikut dalam rombongan. Setelah ditempatkan di daerah yang aman, Ki Nala kembali lagi Kandat untuk merawat gerobak sang majikan hingga akhirnya ia meninggal di Desa Kandat, setelah sebelumnya ‘babad alas’ Kandat untuk membangun desa
    Setelah satu setengah abad lebih, Mbah Gleyor tidak difungsikan, sepintas orang tak akan tertarik jika melihat Mbah Gleyor yang diparkir dengan sederhana di tepi jalan desa tak beraspal, termasuk Pemkab Kediri. Jika hujan, jalan tanah itu becek tak keruan. Hanya masyarakat Desa Kandat yang tahu persis bagaimana kemasyhuran dan “kesaktian” Mbah Gleyor.
    Menurut Sutarto (40) juru kunci, dulunya gerobak antik itu disimpan di kampung di sebelah utara Desa Kandat (Jl Watu Gede,red). Namun, pada tahun 1950, Mbah Matal, yang merawat Mbah Gleyor, menerima firasat kendaraan bupati itu “minta” dipindahkan ke sebelah selatan Desa Kandat (sekarang Jl Glinding).
    Maka, terjadilah proses pemindahan itu dengan disertai beberapa kejadian unik. Konon, lanjut Sutarto, saat dipindahkan gerobak itu tak bergerak semeter pun, walau sudah ditarik kerbau. “Yang aneh, waktu dipakai bupati kan juga ditarik kerbau. Mengapa setelah sekian lama, ditarik kerbau tidak mau,” ujarnya.
    Akhirnya, gerobak itu baru dapat dipindah setelah ditarik Mbah Matal. Istri Mbah Matal membantu dengan mendorong dari belakang. Begitulah cara Mbah Gleyor sampai di tempatnya sekarang. “Dan yang menarik jalan bekas yang dilewati Mbah Gleyor hingga kini tidak ditumbuhi rumput. Subhanallah ini benar-benar kuasa Allah Yang Maha Perkasa,” tambah Sutarto.
    Sutarto mengaku meski tidak dibayar untuk merawat Mbah Gleyor. Namun ia berobsesi bersama warga Desa Kandat secara swadaya akan menjadikan gerobak itu sebagai obyek wisata.
    Sebetulnya, ia berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri yang turun tangan mengolah itu. Namun, disayangkan, sejauh ini tidak ada perhatian sama sekali. “Gerobak itu bukan hanya terkait dengan sejarah Kandat, tetapi sejarah Kediri. Masak disia-siakan begitu saja oleh kabupaten. Dan yang mengurus malah bukan orang Kediri, ini kan kebangetan. Apalagi Bupati Sutrisno kan juga orang Kandat tapi tidak ada niat membantu” tambah Sutarto. (IMAM MUBAROK)

  3. Tan Khoen Swie di Sebuah Lorong Jawa

    Tan Khoen Swie di Sebuah Lorong Jawa

    Tan Khoen Swie adalah
    perpaduan etika dan filosofi
    Cina dan Jawa,
    yang asketik tapi tak
    menjauhi dunia.

    Lihat kegiatannya di Kok Sia Hwee,
    Tiong Hoa Hwee Koan,
    Gie Khie Kong Soe,
    Yat Sie Poo Sia,
    HCTNH.
    Dia juga penganjur gerakan perempuan
    Hoe Lie Hiap Hwee.

    Belum lagi
    Boekhandel Tan Khoen Swie Kediri!

    Hitunglah, berapa ratus
    karya pujangga Jawa terbit di sana
    sebelum Indonesia merdeka.
    Tanpa perantaranya
    karya Joyoboyo, Ronggo Warsito,
    dan sastrawan Jawa lainnya
    tak akan luas dibaca.
    Keahliannya dalam sastra Jawa
    tak ada yang meragukannya.

    Karena cinta dan pengabdiannya,
    sejarah hidupnya
    tak mungkin dijelaskan
    tanpa sastra Jawa,
    dan sejarah sastra Jawa modern
    tak mungkin disebut
    tanpa Tan Khoen Swie!

    M.N. Ichwan
    Leiden 2004

  4. Legenda Raja-raja Denmark dan Babi

    Di jaman purbakala dunia terbagi atas dua wilayah: Muspel terletak di selatan penuh ditandai terang dan api; di bumi utara hanya berisi es dan salju. Di tengah bumi selatan dan utara, terdapat kehampaan yang disebut Ginnungagap. Di situ terdapat makhluk purba, seorang raksasa bernama Ymr. Kapan dia lahir dan siapa orang tuanya, tidak ada satu pun yang tahu tentangnya. Dia hidup dari meminum susu seekor lembu purba bernama Audhumla, yang hidup dari menjilati garam pada bongkahan es.
    Ymir suka mendatangi Audhumla pada malam hari saat tidak ada suara makhluk apa pun. Satu malam, Ymir berusaha naik ke punggung Audhumla, tetapi malangnya, ia jatuh ke dalam “lubang” di belakang Audhumla. Lembu betina yang heran dengan tindakan Ymir itu bertanya,”Apa yang sudah engkau lakukan, o raksasa?”
    Ymir dengan malu menjawab singkat sambil berlalu pergi,”Aku memasukkan tongkatku untuk mengambil keju di belakangmu.” Setelah peristiwa itu, Audhumla hamil dan kemudian melahirkan makhluk baru yang dinamai Bury (kuburan) karena bayi itu harus mengubur rahasia Ymir yang memalukan. Bury tumbuh cepat setinggi dan sebesar pohon dengan kekuatan sedahsyat aliran sungai. Tetapi Bury hidup kesepian karena ia tidak melihat makhluk lain di sekitarnya kecuali ibunya dan dirinya sendiri.
    Suatu hari yang sepi, lewatlah di depan Bury seekor babi betina bernama Piggy. Bury melihat babi betina itu sangat besar dan gemuk seperti drum. Ia tertarik. Lalu ia berkata sambil menaiki punggung babi tersebut,”Ijinkan aku menaiki punggungmu.” Babi betina bernama Piggy itu membiarkan dirinya dinaiki Bury. Tetapi setelah itu, hamillah babi tersebut dan melahirkan seorang makhluk raksasa berkepala babi. Karena tidak bisa merawat bayi raksasa berkepala babi, Piggy menyerahkan bayinya kepada Bury. Lalu Bury menamai bayi itu: Boar (babi).
    Anak Bury dengan Piggy yang bernama Boar itu tumbuh dewasa. Tetapi ia heran dengan wujud dirinya yang berkulit putih dengan totol-totol merah selayaknya kulit babi. Ia juga heran dengan kepalanya yang mirip kepala babi. Ketika diberitahu oleh Bury bahwa ibundanya adalah seekor babi, Boar kemudian kawin dengan Piggish, seekor babi betina yang tinggal di hutan. Lalu lahirlah tiga orang anak mereka: Oddin, Velle, Vi. Lantaran keturunan babi, maka anak-anak Boar memiliki kulit seperti babi yaitu putih dengan totol-totol merah. Telinga mereka juga lebar seperti babi. Mereka makan sangat rakus mirip babi. Bahkan kalau tidur mendengkur layaknya babi.
    Oddin dan saudara-saudaranya tumbuh menjadi makhluk setengah raksasa setengah babi. Oddin memiliki senjata ampuh berupa godam batu yang bisa memancarkan api. Oddin dan saudara-saudaranya mula-mula menyembelih raksasa purba, Ymir, yang sejatinya adalah kakek buyutnya. Mereka membunuh semua raksasa es yang lahir dari dua kaki Ymir.
    Setelah membinasakan Ymir dan para raksasa es, Oddin dan saudara-saudaranya menjadi perampok ganas yang menjarah kekayaan suku-suku di sekitarnya. Sebagai tanda bahwa ia keturunan lembu Audhumla, Oddin dan saudara-saudaranya mengenakan topi dengan tanduk. Dan setelah kayaraya dengan barang hasil rampasannya, Oddin membangun kerajaan di utara yang dinamainya Asgard. Oddin menjadi datu leluhur raja-raja Denmark. Oddin memiliki anak bernama Thor, yang juga menjadi perampok ganas yang menjarah kekayaan suku-suku sekitarnya. Sementara dari Vi, adik Oddin, lahir bangsa Viking yang merupakan perampok-perampok ulung yang menjarah kekayaan suku-suku sekitar bahkan sampai ke kepulauan Britania. Demikianlah, raja-raja Denmark yang berkuasa sejak era Harold Bluetooth – Harold Si Gigi Biru – pada 935 – 985 Masehi, pada dasarnya adalah keturunan Boar dengan Piggy.
    Dengan memahami legenda dan mitos yang dipercaya oleh bangsa Denmark, umat Islam di seluruh dunia khususnya di Indonesia diharapkan dapat memahami sikap benci orang-orang Denmark kepada agama Islam dan terutama kepada Nabi Muhammad Saw selaku penyiarnya. Maksudnya, ajaran Islam yang menempatkan binatang babi sebagai hewan paling najis, sangat menyinggung perasaan bangsa Denmark yang menurut legendanya adalah keturunan babi. Jadi kalau mereka kemudian marah dan menista Nabi Muhammad Saw harus difahami sebagai ungkapan alam bawah sadar suatu komunitas keturunan babi. Hal serupa, telah terbukti pula saat bangsa Denmark mendukung gerakan Nazi dalam ethnic-cleansing membantai etnis Yahudi di era Perang Dunia II, karena Agama Yahudi juga mengajarkan bahwa babi adalah hewan najis.

  5. Si Kuning yang Jadi Rebutan Setelah Lebaran

    Tak lengkap jika lebaran tanpa adanya ketupat (kupat/jawa,red), seperti halnya sayur tanpa garam. Begitulah tradisi yang turun temurun khususnya di tanah Jawa usai melakukan ibadah puasa Ramadan sebulan penuh. Karena sudah merupakan tradisi banyak orang yang memanfaatkan keahlian membuat ketupat untuk di jual. Tak ayal penjual musiman ini menjamur di berbagai tempat dengan memanfaatkan momen lebaran.
    Seperti halnya yang dilakukan Mbok Darmi (60) penjual ketupat yang mangkal di depan Pasar Setono Betek Jl Patimura Kota Kediri. Ia mengaku telah puluhan tahun menjual janur (bahan untuk ketupat,red) dan ketupat yang sudah jadi.
    Kepada RADAR Surabaya Darmi yang sebelumnya menjual bunga khusus untuk persediaan ziarah ke makam-makam di malam lebaran terpaksa memutar haluan menjadi penjual ketupat karena prospek menjual bunga sesudah hari keempat lebaran tak lagi menguntungkan.
    “Malam hari raya kemarin satu tas kresek penuh bunga mawar bisa menghasilkan uang Rp75 ribu sampai Rp50 ribu. Namun kini hanya laku Rp7.500, itupun jarang sekali yang menawar, karena semua sudah ziarah makam . Karena ada yang lebih menguntungkan makannya saya putar haluan jualan ketupan dan bahannya yakni janur,” kata Mbok Darmi perempuan asal Ngadiluwih yang juga diamini Wiji (37) penjual yang bersebelahan dengannya.
    Untuk bahan baku Darmi i mengaku memetik dari tanaman kelapannya sendiri dan juga membeli dari orang-orang yang ada di wilayah Kabupaten antara lain Kandat, Wates dan Ngadiluwih sendiri. Karena di daerah tersebut masih banyak ditemui tanaman pohon kelapa. Per 100 janur menurut Lasmini ia membeli Rp7.500.
    ” Ya kalau diecer per 10 janur saya jual Rp1.000,- jadi kalau dihitung laba per 100 janur laba 3.000. Sedangkan untuk ketupat yang sudah jadi per 10 ketupat saya menjual Rp2.500, disesuikan kenaikan BBM” ujarnya.
    Dari dua model ketupat yang ia jual yakni model ketupat shinto atau ketupat berkaki empat dan ketupat kodok, yang paling laris menurut Darmi adalah ketupat shinto. Karena memang ketupat shinto adalah ketupat peninggalan jaman nenek moyangnya,” Kalau ketupat kodok kan kreasi anak muda sekarang ,” jelasnya.
    Meski saat ini belum ramai pembeli, menurut perkiraan Lasmini dan teman-temannya sesama penjual ketupat. Puncak pembeli akan tiba hari ini, Sabtu (28/10) dan Senin besok (29/10),” Karena itu pas bertepatan dengan hari kelima dan keenam lebaran. Biasannya hari itulah umat Islam melaksanakan tradisi ketupat,” jelas Wiji.
    Namun dibalik itu ia juga menyayangkan, meski secara ekonomi ia diuntungkan. Namun secara tradisi banyak generasi muda yang tidak bisa membuat ketupat karena lebih dienakkan untuk membeli yang sudah jadi.
    drg J Sutjahjo Gani (48) tokoh budaya Kediri dikonfirmasi RADAR Surabaya juga menyayangkan banyak generasi muda yang tidak paham dengan makna ketupat atau kupat.
    Menurutnya ketupat atau biasa disebut kupat mempunyai makna filosofis yang cukup dalam.” Kupat itu artinya nyukupne barang papat (menyelesaikan empat pekerjaan,red) yakni puasa Ramadan, Sholat Iedul Fitri, mengeluarkan zakat dan puasa syawal. Namun banyak orang yang tidak paham dan hanya ikut-ikutan. Jadi jika sudah melakukan keempatnya itu baru merayakan atau menikmati makan ketupat. Ini ajaran sesepuh-sesepuh kita, ini semua “tamsil” (perumpamaan,red). Dimana wali songo juga yang mengajarkan,” kata Gani pada RADAR Surabaya.
    Sebagai ungkapan syukur karena sudah melaksanakan empat pekerjaan tersebut menurut Gani masyarakat jawa mempunyai kebiasaan membagi-bagikan ketupat ke tetangga sekitar.,” Kalau di desa tradisi saling menghantarkan ketupat masih ada, kalau di kota tradisi ini saya kira sudah hilang. ,” ujarnya. (Imam Mubarok)

  6. Aku wong Kediri juga meski sekarang lagi mengembara ‘golek upo’ nang Semarang…. Sudah 3 tahun aku ra bali nang Kediri….ah…..kangennya……..

  7. Yo mulih nang kediri to mas… sampean kediri ngendi lho ?

  8. Serat Babad Kadhiri Cikal Bakal Kembalinya Berkibar Boekhandel Tan Khoen Swie

    Mewujudkan sebuah amanat ibarat menegakkan benang basah. Itulah barangkali situasi dan kondisi yang dirasakan drg J Sutjahjo Gani (cicit pemilik Boekhandel Tan Khoen Swie yang sekaligus penerbit, pengarang buku-buku kuno di Kediri antara tahun 1900-1953,red) dan Imam Mubarok (wartawan RADAR Surabaya) ketika pada pertengahan tahun 2003, yakni ketika Ibu Siti Halimah Soeparno menyodorkan lembaran-lembaran naskah dalam wujud ketikan kepada kami. Sebuah naskah terjemahan Buku Serat Babad Kadhiri yang mulai diterjemahkan antara 1981 hingga 1989 disela-sela kesibukannya menjadi guru.
    Tanpa berpanjang kata, beliau menyampaikan sebuah pesan agar kerja kerasnya menerjemahkan sebuah manuskrip kuno bisa tersampai pada khalayak, khususnya generasi muda kami langsung menyanggupi.
    “Saya sempat kaget ternyata masih banyak orang yang cinta dan peduli terhadap buku-buku terbitan Tan Khoen Swie salah satunya Ibu Halimah yang dengan sukarela menerjemahkan dari huruf jawa ke Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Selain saya ketahui memang banyak buku-buku Tan Khoen Swie yang beredar di luar negeri,” kata drg Gani ketika kali pertama mendapat penghormatan dan diberi amanat untuk menerbitkan Buku Serat Babad Kadhiri.
    Satu hal yang ada dalam benar dokter lulusan UGM ini atas amanat itu, yakni agar pengetahuan tentang sejarah ikhwal berdirinya sebuah kota bisa menetes menjadi embun semangat. Sehingga spirit perjuangan para pembabat kawasan yang kini dikenal dengan sebutan Kediri, dimana dalam perkembangan administratifnya terbagi menjadi dua wilayah, Kota Kediri dan Kabupaten Kediri, bisa menggelora sepanjang masa.
    Namun sayang, kurang lebih setahun setelah terjemahan itu diberikan, Ibu Siti Halimah Soeparno meninggal dunia sebelum kami sempat menerbitkan hasil terjemahan beliau. Sebab waktu setahun waktu itu kami kami gunakan untuk proses pengeditan ulang.
    Sekilas sejarah Kediri berdasarkan naskah Serat Babad Kadhiri, cetakan II yang diterbitkan Boekhandel Tan Khoen Swie, Kediri pada tahun 1932. Naskah asli dalam bahasa huruf Jawa Kuno ditulis oleh Mas Ngabei Purbawidjaja (Jaksa Ageng di Kediri saat itu) dan disempurnakan Mas Ngabei Mangunwidjaja adalah buku yang menceritakan tentang Kediri baik kota maupun kabupaten.
    “Terbitnya Buku Serat Babad Kadhiri ini merupakan upaya merevitalisasi catatan penting yang pernah kami publikasikan 74 tahun lalu di bawah bendera Boekhandel Tan Khoen Swie. Berbeda dengan terbitan sebelumnya, penerbitan ulang ini kami yakini bisa lebih tajam memaparkan situasi sejarah masa lalu Kediri karena disajikan dalam wujud terjemahan dalam bahasa Indonesia serta dilengkap manuskrip aslinya yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno,” imbuh Gani.
    Dalam buku Babad Kadhiri ini diriwayatkan, Mas Ngabei Purbawidjaja didesak oleh pemerintahan kolonial Belanda untuk melacak sejarah lahirnya Kota Kediri (Nagari Kadhiri). Dengan bantuan Ki Dermakanda, dalang wayang klitik dan penabuh gamelan bernama Pak Sondong, Mas Ngabei Purbawidjaja berhasil merekam wawancara antara Ki Dermakanda dengan Ki Buto Locaya (Kyai Daha) yang merasuk ke dalam raga Pak Sondong. Hasil rekaman dialog itu selanjutnya disempurnakan Mas Ngabei Mangunwidjaja dan disusun menjadi Serat Babad Kadhiri.
    Setelah buku Serat Babad Kadhiri terbit pada pertengahan 2006 lalu, kini kurang lebih 400 buku yang lain terbitan awal abad 19 masih tersimpan rapi di rak-rak lantai tiga rumah peninggalan Tan Khoen Swie dan satu persatu mulai diterjemahkan. Warisan yang tidak ternilai harganya, yang tidak semua orang memiliki koleksi selengkap dari tulisan orang-orang berpengaruh di masannya.
    “ Dalam waktu dekat akan terbit kitab ramalan dan perhitungan karya Tan Tik Sioe yang oleh kalangan Tionghoa dikenal dengan manusia setengah dewa. Serat Babad Tuban dan masih banyak lagi. Namun saying sekarang banyak orang tidak menghargai hak, buktinya buku-buku terbitan Tan Khoen Swie yang dalam perjanjian disebutkan yang berhak menerbitkan adalah Boekhandel Tan Khoen Swie, namun banyak yang menerbitkan tanpa konfirmasi terlebih dahulu,” ungkap Gani.
    Boekhandel Tan Khoen Swie bertempat di Jl Dhoho 155 Kota Kediri atau orang saat ini lebih mengenal dengan TOKO “Surabaya” . Rumah tua yang benar-benar berbeda dengan sederet toko lain di sepanjang Jalan Dhoho.
    Kesan tua dan antik tersembul kuat. Benar saja. Pasalnya, di rumah toko itulah, di awal abad ke-19 dulu, beroperasi sebuah bisnis penerbitan yang tersohor di seantero Pulau Jawa. Bahkan, sejumlah pihak menyebutnya sebagai cikal bakal penerbitan di Indonesia dan lebih tua dari penerbitan milik kolonial Belanda Balai Pustaka.
    Di Boekhandel Tan Khoen Swie itulah sejumlah gagasan milik pujangga dan pengarang kenamaan asal berbagai kota di Jawa, pernah diterbitkan oleh badan penerbitan milik Tan Khoen Swie .
    Sebut saja pujangga asal Surakarta, Ronggowarsito dan Padmosusastro. Demikian pula dengan sejumlah penulis asal Bojonegoro, Surabaya, serta Yogyakarta. Total jenderal, jumlah buku yang diterbitkan oleh tokoh kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng), pada tahun 1883 itu mencapai 400 judul.
    “Satu hal perlu saya ucapkan pada Tuhan Yang Maha Esa Boekhandel Tan Khoen Swie kini kembali berkibar setelah tahun 1953 mati suri. Ini berkat dorongan dua teman wartawan yang peduli dengan budaya ( Mubarok dan Yahya Bahri, wartawan di Kediri,red) yang mendesak kepada saya agar mau membuka diri, sebab sebelumnya saya takut, sebeb ada beberapa buku yang dobel dipinjam tapi tidak dikembalikan,” kata Jojo Sutjahjo Gani
    Dari catatan RADAR Surabaya judul-judul buku di Boekhandel Tan Khoen Swie itu tergolong komplet dan multidisipliner. Karena, bidang yang diterbitkan beragam, mulai dari filsafat Jawa, pengetahuan olah rasa, pengetahuan tentang rahasia wanita, pengobatan tradisional, sejarah, dunia binatang, dan lain-lain.
    Bahasa yang ada di buku juga tak melulu bahasa Melayu dan berhuruf latin. Namun, ada juga buku berbahasa Jawa berhuruf latin, serta buku berbahasa Jawa berhuruf Jawa.
    “Mencermati bagaimana kerja penerbitan di masa belum ada komputer dan manajemen transportasi belum secanggih sekarang, saya berpendapat, yang dikerjakan Tan Khoen Swie adalah sesuatu yang luar biasa,” kata Koesharsono orang yang pernah menjadi ketua tim penelusuran tentang sejarah Tan Khoen Swie pada 2002.
    TAN Khoen Swie, dilahirkan di Wonogiri, sekitar tahun 1833. Dari berbagai referensi, kemudian diketahui bahwa Khoen Swie adalah pengurus Kioe Kok Thwan, organisasi masyarakat Tionghoa di Kediri.
    Lantas, pada tahun 1935 di Kediri sudah terbit majalah bulanan Tionghoa berbahasa Melayu, bernama Soeara Saw Kauw Hwee. Sebagian besar isinya memuat faham kebatinan Tionghoa, yakni Tao, Khong Hu Cu, dan Buddha. Di majalah itu, Khoen Swie menjadi redaktur sekaligus pemimpin redaksi dan penulis.
    “Sumber lain juga mengatakan, Tan Khoen Swie kala itu berambut panjang. Ini ada maksudnya, sebab saat itu ada gerakan bersama memanjangkan rambut yang bertujuan diam-diam menentang kekejaman Pemerintah Belanda dan Jepang,” kata Kusharsono.
    Perjuangan itu, menurut dia, didasari faham ajaran yang dianut tokoh penerbit Kediri itu, yang umumnya mengajak berbuat baik dan melarang keburukan. Bahkan, pada masa penjajahan Jepang, ia juga, bersama Kiai Fatah dari Tulungagung, dan Tan Tik Sioe seorang tabib sekaligus pertapa pernah ditahan dan disiksa tentara Dai Nippon.
    Militansi Tan Khoen Swie dalam menentang penjajahan antara lain terlihat dari buku Tjinta Kebaktian pada Tanah Air, terbitan tahun 1941. Demikian pula dalam beberapa buku lain, seperti Bhagawad Gita, Dewa Rutji, dan Bima Boengkoes, yang mengurai rasa cinta kebenaran dan cinta Tanah Air.
    Ratusan buku terbitan lain, seperti telah disinggung di muka, temanya beragam. Misalnya Nitimani karya pengarang terkenal R Tanojo, yang banyak mengulas rahasia bersuami-istri, termasuk membahas liku-liku bersenggama. Demikian pula buku Asmaragama, yang dalam bahasa kini berisi sex education.
    Buku-buku kawruh kebatinan juga banyak diterbitkan dan digemari. Ini juga tak lepas dari strategi kontra penjajahan Belanda, yang akan langsung melarang pengedaran buku tertentu jika terlalu terang-terangan menentang rezim kolonial.
    Buku kebatinan yang telah diterbitkan antara lain berjudul Poestoko Rantjang, Tjipto Goegah, Sasmita Rahardja, Niti Prana, Djampi Gaib, juga Wedotomo. Ada lagi buku-buku petunjuk praktis, misalnya buku tulisan Tan Tek Sioe tentang cara meramal.
    Wali Kota HA Maschut berharap, keluarga ahli waris Tan Khoen Swie mengizinkan cetak ulang atas buku-buku terbitan Boekhandel tersebut. “Jika sudah ada izin, pemerintah kota akan memasukkan buku-buku cetak ulang itu ke Museum Airlangga, sebagai bukti atas pengakuan bahwa karya Tan Khoen Swie merupakan bagian dari sejarah Kota Kediri,” ujarnya. (Imam Mubarok)

  9. salam dari perkasa fm tulungagung

  10. [...] Mubarok Menulis tertutup siang itu Ditandai sebagai:dedi dwitagama, Kediri, kelenteng, Kota Tahu, Tjoe Hwie [...]

  11. Mohon izin Pak untuk memuat sebagian tulisan Bapak di http://fotodedi.wordpress.commtrm ksh

  12. Mohon izin Pak untuk memuat sebagian tulisan Bapak di http://fotodedi.wordpress.commtrm ksh

  13. Assalamualaikum Wr Wb
    Mas Barok memang “Kediri Minded” kemana-mana selalu bawa2 Kediri. Wah hebat juga semangatna. Mas tolong tulis sejarah Bupati Kediri ke-3 Djojonagoro ya, juga Bupati Danuningrat yang juga dibuang ke luar Jawa. Kalau dah buat kasih tahu saya biar pengetahuan tentang sejarah Kediri semakin banyak. Matur Suwun Wassalam
    Bagus Sapto alias Yayak di Bandar Lampung

  14. Salam kenal buat Bung Barok walaupun sebenarnya kita sudah saling kenal he.. he.. Maksud (bukan Maschut lho..) saya kenalkan blog saya : http://kediri-expose.blogspot.com. Salam buat Galuh yoi…

  15. kediri memang tempat asalnya raja-raja terhebat tapi kenapa belum muncul calon presiden ya?masbarok aku kok ingin mempunyai buku tentang babad kediri dimana bisa memperolehnya ya?
    mas kalo bisa pasang foto tempat eksotik kediri sperti G. Kelud dulu dan sekarang, gedung kantor Pos, Gua selomangleng dsb oc mas

  16. mas tampilkan donk foto2 sejarah kota kediri ini, biar orang2 kediri yang berada jauh dari tanah kelahirannya ingat tentang sejarah kotanya…
    matur nuwun…

  17. hebat… hebat ….
    saya yang bukan asli kediri aja kagum sama karya tan khoen swei
    saya menyimpan beberapa buku karyanya cetakan pertama.
    tapi klo ada yang lebih butuh.silahkan hub buku-lawas.blogspot.com
    maturnuwun.semoga sukses

  18. salam
    pak saya bambang dari solo. saya baru menulis tentang jathilan, dan kebetulan berkaitan dengan kisah malat panji juga cerita dewi sanggalangit. adakah sedikit ulasan yang masih dalam benak bapak? kalau ada kapan mau di posting, mohon ijin nanti kalau boleh saya gunakan untuk tambahan referensi. maturnuwun

  19. Terima kasih atas informasinya. Saya termasuk orang kediri yang gak banyak tahu tentang sejarah kediri.

    Good luck!

    God bless you…………
    Good bless kediri……..
    Good bless us all………….

    Amiin……
    I miss my city

  20. Salam kenal….aku juga Kediri aseli gitu lho….sedang nyusun tulisan suatu Prediksi ” NUSANTARA ABAD XXIV “…..gimana tanggapan Saudara-saudara dari Kediri….ditunggu komentarnya

  21. salam kenal..
    Saya juga asli kediri, dan sekarang sedang hijrah untuk “ngangsu ilmu” di Surabaya, tepatnya di Universitas Airlangga, jurusan Ilmu Sejarah.
    Saat ini saya juga sedang berikhtiar untuk menyelesaikan skripsi saya tentang sejarah simbol kota.
    Saya juga sangat berkeinginan untuk mengajukan “Tan Khoen Swie” sebagai bahan kajian saya, mengingat saya juga berasal dari kediri sehingga semangat lokalitas saya selalu membara untuk mengabdi kepada Kediri, dengan cara membuat sebuah karya tulisan tentang salah satu hal yang menurut saya sangat fenomenal yang telah dilakukan oleh putra daerah Kediri pada kurun masanya.
    Untuk itu, besar harapan saya agar Bpk bersedia menjadi “Guru” bagi saya…
    Trimakasih


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar