Kota Kediri Dapat Bagian 35 Persen Dari Parkir Berlangganan

Kota Kediri Dapat 35 Persen Dari Hasil Parkir Berlangganan Kabupaten Kediri

KEDIRI-RADAR- Pemerintah Kabupaten Kediri dan Kota Kediri Selasa (27/2) melakukan penandatanganan MoU terkait parkir berlangganan yang penerapannya akan dimulai 1 Maret mendatang. Dari hasil yang diperoleh Kabupaten Kediri, Kota Kediri dipastikan mendapat 35 persen dari pendapatan parkir dan ini dipastikan PAD Kota Kediri akan mengalami kenaikan hingga Rp1 Miliar lebih.
Penandantangan MoU dilaksanakan Kantor Unit Pelasana Teknis Dinas (UPTD) Dispenda Jawa Timur di Kediri oleh Wali kota Kediri Drs HA Maschut dan Bupati Kediri Ir H Sutrisno.dengan disaksikan Kadispenda Jawa Timur Ahmad Sukardi.
Menurut keterangan Kepala Bagian Humas Kota Kediri Ir Haris Candra Purnama dari total pendapatan parkir berlangganan Kabupaten Kediri senilai Rp3,1 miliar Kota Kediri mendapatkan bagian 35 persen, Dispenda Jatim sebagai pelaksana teknis mendapat 15 persen dan Polres 5 persen. Alasan pemberian 35 persen untuk Kota Kediri karena sebagain besar pemilik kendaraan di Kabupaten Kediri parkir di Kota Kediri sedangkan Kota Kediri tiodak wajib memberika kontribusi ke Pemkab Kediri.
“ Jadi mulai per 1 Maret warga Kabupaten Kediri yang memiliki kendaraan roda dua atau empat bisa parkir gratis di Kota Kediri yang selama ini mereka ditarik saat parkir kecuali kendaraan asli Kota Kediri karena penerapannya mulai per 1 Januari lalu,” kata Haris pada RADAR Surabaya.
Catatan RADAR Surabaya dari pendapatan Parkir Kabupaten Kediri jumlah yang didapatkan tersebut berasal dari parkir berlangganan yang wajib dibayar melalui Kantor Samsat yakni Rp10 untuk roda dua selama setahun dan roda empat Rp20 ribu. Jumlah kendaraan roda dua di Kabupaten Kediri sendiri saat ini mencapai 261 ribu sedangkan roda empat mencapai 27 ribu. (aro)

5 Rumah Hancur, Puluhan Terancam Longsor

Hujan Sehari, 5 Rumah Warga Jugo Mojo Kediri Hancur Terkena Longsoran Gunung Wilis
* Puluhan Rumah Masih Terancam

KEDIRI-RADAR- Hujan seharian yang mengguyur lereng Gunung Wilis tepatnya di Desa Jugo Kecamatan Mojo Kediri memakan korban rumah warga, Minggu malam (25/2) sekitar pukul 18.00 . Sedikitnya 5 rumah warga hancur dan tertimbun tanah akibat longsornya tebing gungung. Selain itu, puluhan warga lainya terpaksa mengungsi untuk sementara warktu karena takut terjadi longsor lagi.
Rumah warga yang hancur tersebut antara lain milik Nur Kholis (40) warga Dusung Mbenggeng Desa Jugo, rumah milik Supar, Seri keduanya warga Dusun Mbadut Jugo dan rumah milik Sangi, Ponidjan keduanya warga Dusun Jengglong Desa Jugo.
“ Rumah-rumah itu hancur dan tertimbun tanah lereng gunung yang telah gundul setelah diguyur hujan sejak pagi. Beruntung dalam kejadian tersebut warga mengetahui sehingga mereka dapat menyelamatkan diri saat terjadi longsor,” kata Kapten (Inf) Suradi Komandan Koramil Mojo pada RADAR Surabaya saat ditemui di tempat longsoran Dusun Mbenggeng, Senin (26/2).
Untuk menuju lokasi longsor dari arah Kota Kediri kira-kira menempuh jarak 25 kilometer ke arah barat daya dengan ketingggian 740 dpl. Perkiraan awal RADAR Surabaya saat dii persimpangan utama Dusun Mbenggeng menuju lokasi longsor bisa ditempuh dengan sepeda motor ternyata tidak bisa dan harus jalan kaki di jalan utama yang lebarnya 1 meter sepanjang 2 kilometer.
Tiba di lokasi longsor rombongan RADAR Surabaya dan wartawan lain langsung disambut oleh Santoso (38) Ketua RT 07 RW 04 beserta warga yang lain yang waktu itu sedang mengeruk tanah tempat dimanana rumah Nur Kholis tertimbun untuk mengambil beberapa bagian rumah yang masih bisa dipakai.
“ Tolong mas ini dipublikasikan biar pemerintah tahu kalau warganya yang diatas gunung keadaanya seperti ini dan sangat perlu bantuan sekali. Sebab di Dusun Mbenggeng ini ada 62 kepala keluarga,” kata Santoso pada RADAR Surabaya.
Ditambahkan Santoso dari 62 KK tersebut yang saat ini kondisinya rawan jika ada hujan lagi ada 7 rumah. Yakni rumah milik Kliwon Palil, Sutrisno, Miseran, Cipto, Suyitno dan Tukul,” Mereka ini sejak kejadian semalam pasca hancurnya rumah milik Nur Samsul sudah mengungsi. Sebab rumah mereka tepat dibawah lokasi longsor,” jelas Santoso.
Namun demikian Santoso mengaku sedikit kecewa dengan lambanya penanganan yang dilakukan Pemkab Kediri,” Meski ada yang datang dari Kesbanglinmas namun tidak ada tindakan yang riil,” ungkapnya.
Dalam kesempatan kemarin, Komandan Koramil Mojo Kapten (Inf) Suradi juga tampak mengumpulkan warga agar selalu waspada dan untuk tujuh rumah yang rawan longsor harus segera mengungsi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
“ Kondisi cuaca tidak menentu maka kami atas perintah Komandan Kodim 0809 Kediri untuk memberitahukan kepada warga untuk segera melakukan evakuasi. Anak buah saya telah saya sebar di Mbenggeng, Mbadut dan Jengglong. Untuk di Mbadut dan Jengglong ada empat rumah warga yang hancur untuk menuju ke sana medanya sangat sulit kecuali menggunakan kendaraan khusu” katanya.
Sementara itu Kabag Humas Pemkab Kediri Drs Sigit Rahardjo hingga kemarin belum berhasil dikonfirmasi RADAR Surabaya. Beberapa kali dihubungi HP selalu dimatikan. (aro)

Ternyata Bukan Chikungunya…Lho…!!

Tim Medis Nyatakan Sakit yang Diderita Ratusan Santri Lirboyo Bukan Chikungunya

KEDIRI- Direktur Rumah Sakit (RS) Lirboyo dr Syamsul Azhar, SpPD memastikan penyakit yang diderita 756 santri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri sejak seminggu lalu bukanlah chikungunya, Senin (26/2).
“Hasil diagonosis sementara kami pada beberapa orang santri menyatakan, penyakit yang diderita hanyalah demam biasa, bukan chikungunya,” kata Samsul saat ditemui wartawan di RS Lirboyo di Kediri.
Menurutnya kendati sebagian santri mengalami ngilu pada persendian, tapi bukan berarti mereka terkena wabah penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebarkan nyamuk “aedes aigypti” itu.
“Ngilu pada persendian itu sudah umum bagi penderita demam dan panas tinggi. Jadi ngilu itu bukan mesti layak disebut sebagai gejala chikungunya,” kata Samsul yang juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Kediri itu.
Syamsul Azhar menyebutkan beberapa gejala chikungunya, diantaranya nyeri dan bengkak pada sendi-sendi kecil (artretis) yang berpindah-pindah, nyeri hebat pada kepala, mata merah, dan mengalami “photo phobia” atau mata terasa sakit berlebihan jika terkena cahaya.
Penyakit chikungnya hampir sama dengan demam berdarah, yakni selain disebarkan oleh nyamuk aedes aigypti, kedua penyakit tersebut tergolong jenis penyakit mematikan.
Namun penderita chikungunya tidak disertai dengan pendarahan seperti penyakit demam berdarah yang disebabkan oleh virus “dengue”.
“Sementara tanda-tanda yang mengarah pada chikungunya sama sekali tidak kami temukan. Dan kalau sampai di Lirboyo ini ada sepuluh kasus saja, sudah bisa dijadikan KLB (Kejadian Luar Biasa),” ujar Ketua Dewan Pembina RS Lirboyo itu.
Pernyataan Syamsul Azhar sekaligus untuk membantah pernyataan Kepala Madrasah Hidayatul Mubtadi’in Ponpes Lirboyo KH Atho’illah bahwa ratusan santrinya banyak yang terkena chikungunya.
Bahkan dengan maraknya wabah itu, para santri diwajibkan mengikuti ritual khusus sejak Minggu (25/2) dinihari lalu. Sedang para santri yang sakit banyak yang meninggalkan ponpes untuk kemudian pulang ke kampung halamannya masing-masing.
Sementara itu data di RS Lirboyo menyebutkan, sampai sekarang jumlah pasien suspect DBD tercatat mencapai lima orang. Dari lima orang pasien DBD yang rawat inap di RS Lirboyo, tiga diantaranya adalah kalangan santri Ponpes Liboyo, sedangkan dua sisanya warga masyarakat umum. (***)

Video NoviGDNG.1000 Libatkan Istri Polisi

Polisi Kejar Pelaku Pengedar Video NoviGDNG.1000
* Curigai Ada Keterlibatan Istri Polisi

KEDIRI-RADAR- Satuaan Reserse Kriminal Polres Kediri pasca mengungkap kasus video mesum bertitel NoviGDNG.1000 kini masih melakukan pengejaran kepada jaringan pengedarnya, termasuk istri anggota polisi yang kali pertama menjerumuskan Novi ke lembah hitam saat bekerja di Salon Gemini Jl Kandangan Pare beberapa tahun lalu.
Selain itu polisi juga menetapkan pasal berlapis kepada Ken Sanada (26) warga Gedangsewu Pare yang telah memperdayai Novi yang ternyata masih berumur 16 tahun saat dijebak untuk berhubungan badan hingga diabadikan dalam video handphone ( bukan 25 tahun seperti yang diberitakan kemarin,red).
“ Saat ini anak buah saya melakukan pengejaran kepada jaringan pengedar video NoviGDNG.1000. Pokoknya semua yang terlibat akan kita tangkap pasca penangkapan Ken Sanada, sedangkan Novi sendiri sudah kita lepas setelah kita mintai keterangan sebab dia sebagai korban,” kata AKP didit Prihantoro Kasat Reskrim Polres Kediri pada RADAR Surabaya, Minggu (25/2)
Menurut Didit Ken Sanada akan dikenai pasal berlapis yakni pasal 282, 293 KUHP dan Pasal 88 UU 23/2002 tentang perlindungan anak,” Karena jelas-jelas saat dipaksa berhubungan badan meski dibayar usia korban masih 16 tahun 6 bulan,” tambahnya.
Disinggung soal adanya informasi korban terjerumus ke lembah nista “menjadi wanita panggilan” karena ulah istri oknum polisi saat korban bekerja di Salon Gemini di JL Kandangan Pare, Didit tidak menampiknya.“ Yang jelas pemilik salon juga akan kita mintai keterangan nantinya. Tapi saat ini kita masih kita fokuskan kasus trafikingnya dulu,” ujar Didit.
Informasi yang diperoleh RADAR Surabaya dari sumber di Polres Kediri, terjebaknya Novi di lembah hitam karena ulah NN istri oknum polisi yang telah memperkerjakannya,” Dia dipaksa melayani tamu, meski pada awalnya ia menolak namun kemudian mau karena keterpaksaan masalah ekonomi. Dari situlah Novi memulai karier hitamnya didunia wanita malam, jadi yang jelas NN punya andil besar disini,” kata sumber RADAR Surabaya yang tidak mau disebutkan namannya. (aro)

Harga Bawang Merah Menukik

Harga Bawang Merah Anjlok

KEDIRI-RADAR Harga bawang merah di wilayah Kediri anjlok anjlok hingga mencapai 75 persen. Di tingkat petani, bawang merah hanya dihargai Rp 1.500 sampai Rp2.000 per kilogram, padahal pada akhir 2006 lalu hargannya bisa mencapai Rp6.000 per kilogram. Akibatnya petani bawang merah kini alih profesi ke tanaman yang lain.
Anjloknya harga tanaman holtiklutura ini diakibatkan karena saat ini pasar kelebihan stok. Sebab setelah kemarau panjang kemarin petani bawang merah banyak yang menanam bawang merah.
Kondisi ini diperparah dengan membanjirnya bawang merah dari luar Kediri. Selain dari Nganjuk, bawang merah dari Jember dan Brebes Jawa Tengah yang juga masuk ke wilayah Kediri tanpa bisa dicegah.
Akibatnya, para petani bawang merah di Kediri saat ini menjerit. Dengan harga jual yang menukik. Sulit bagi mereka merasakan untung. Jangankan untung, untuk menutupi biaya produksi dan kembali modal saja sulit.
Setidaknya, harga akan bisa menutupi biaya produksi kalau harga bawang merah berkisar antara Rp.2500 sampai Rp 3.000. Dari keterangan beberapa petani yang ditemui RADAR Surabaya harga bawang merah dengan kualitas rendah di tingkat petani di Kediri saat ini hanya dihargai Rp 1.500 per kilogram. Kualitas sedang Rp 1.800 per kilogram dan kualitas baik Rp 2.000 per kilogram.
“Harga bawang merah terus merosot kami para petani pusing tujuh keliling saat ini karena belum bisa balik modal. Daripada tidak bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga dengan sisa modal yang ada saya terpaksa beralih menanam padi dan sawi, karena sawi lebih pendek masa panennya hanya 30 hari,” kata Cahyono, petani bawang merah asal Sekoto, Pare, Kediri, Minggu (25/2).
Selain di Sekoto, beberapa tempat yang menjadi sentra bawang merah adalah di daerah Sidowarek dan Sumber Gendol (keduanya di wilayah Kecamatan Plemahan), Siman (Kepung), dan beberapa wilayah di Tarokan dan Semen.
Menanggapi rendahnya harga bawang putih di Kediri, Kepala Dinas Pemasaran Kabupaten Kediri, Andes Erwanto, menyatakan bahwa kondisi itu tidak bisa dilepaskan dari panen raya.
“ Rata-rata petani kita tidak memiliki kalender tanam yang baik, semua menanam bawang merah. Dan soal masuknya bawang merah dari wilayah lain, kami tidak bisa mencegahnya,” jelasAndes. (aro)

Lirboyo Lawan Chikungunya Dengan Wirid

756 Santri Lirboyo Diserang Chikungunya
* Santri dan Kiai Melawan Dengan Wirid Keliling Kelurahan Lirboyo Selama Satu Minggu

Ratusan santri Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri Minggu dini hari (25/2) sekitar pukul 00.05 berjalan mengelilingi kelurahan Lirboyo Kecamatan Mojoroto Kota Kediri tempat dimana pesantren ini berada. Aksi para santri ini bukan jurit malam layaknya yang dilakukan bagian keamanan pondok tiap malam. Namun lebih merupakan aksi melawan penyebaran penyakit Chikungunya yang menyerang sedikitnya 756 santri dan santriwati di pesantren yang didirikan oleh KH Abdul Karim pada tahun 1910 ini.
Dengan menggunakan khas pakaian kebesaran santri yakni bersarung dan menggunakan baju koko, santri kelas Tsanawiyah dan Aliyah ini berkumpul di timur masjid lama Ponpes Lirboyo mendengarkan pengarahan dari KH Athoillah S, Mudir (Kepala,red) Madrasah Hidayatul Mubtadien.
“ Konco-konco santri, saat ini Pesantren Lirboyo sedang diserang penyakit Chikungunya, akibatnya mereka tidak bisa masuk sekolah. Oleh karena berdasarkan petunjuk para sesepuh Lirboyo kita harus melakukan ritual mengilingi kelurahan Lirboyo agar pesantren ini direkso (dijaga,red) Allah dari bala’,” kata KH Athoillah sebelum memulai ritual dihadapan sekitar 700 santri yang siap diajak keliling jalan kaki sejauh 5 kilo meter.
Usai memberikan penjelasan Gus Atho’ panggilan akrab KH Athoillah langsung berjalan ke barat menyusuri Jl KH Abdul Karim, JL HM Winarto, Jl Dr Sahardjo dilanjutkan ke areal persawahan dan pemakaman yang dikenal angker di wilayah Ponpes Lirboyo yakni “Dempul” tempat yang diyakini oleh para sesepuh Lirboyo sebagai kerajaan para jin disamping juga dijadikan tempat pemakaman Mr X oleh RSUD Gambiran Kediri.
Tanpa lampu penerangan beberapa santri saat melewati wilayah angker tersebut ada juga yang akhirnya terperosok ke sawah. Setelah melewati daerah Dempul Gus Atho’ dan para santri yang mengikutinya di belakang hingga menjadi jajaran sepanjang kurang lebih 1 kilo meter akhirnya kembali masuk jalan utama yakni Jl Penanggungan di batas timur Ponpes Lirboyo dan kembali memasuki Jl KH Abdul Karim.
Saat berkeliling mengitari pesantren para santri bukan hanya diam mengikuti sang kiai berkeliling, namun juga membaca doa yang telah diberikan sebelum melakukan ritual. Ritual yang dibaca ini adalah rapalan yang diajarkan oleh para sahabat-sahabat Nabi Muhammad yang kemudian diwarisakan kepada para ulama penerusnya.
Ritual kali ini bukan yang kali pertama dilakukan oleh para santri Lirboyo. Pada tahun 1960 pesantren yang memiliki lebih dari 10 ribu santri ini pernah juga melakukannya yakni saat para santri diserang penyakit cacar. Demikian juga pada tahun 2004 saat santri diserang Chikungunya. Dan atas seijin Allah, berkat ritual tersebut segala penyakit yang menyerang sedikit demi sedikit terkurangi
Dari catatatan Gus Atho’ pada RADAR Surabaya diantara wabah yang paling besar adalah yang terjadi saat ini. Keterangan masing-masing ustadz yang mengajar di 126 ruangan, dapat dipastikan tiap kelas ada 6 orang santri yang terserang Chikungunya.
Sedikt mengingatkan Chikungunya masuk di Indonesia sekitar tahun 1973, penyakit yang berasal dari daratan Afrika dilaporkan pertama kali menyerang di Samarinda, kemudian berjangkit di Kuala Tungkal, Martapura, Ternate, Yogyakarta selanjutnya berkembang ke wilayah-wilayah lain.
Chikungunya sendiri berasal dari bahasa Swahili berdasarkan gejala pada penderita, yang berarti (posisi tubuh) meliuk atau melengkung (that which contorts or bends up), mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat (arthralgia).
” Ritual ini adalah sarana meminta kepada Allah dengan cara non medis. Namun demikian kami tetap melakukan upaya medis untuk para santri yang sakit ini dengan membawanya ke rumah sakit dan klinik pesantren disamping juga kita lakukan fogging dan pemberantasan sarang nyamuk bekerjasama dengan Dinas Kesehatan,” jelas Gus Atho’.
Rencanannya ritual ini berdasarkan petunjuk para sesepuh Lirboyo akan dilaksanakan selama satu minggu secara bergiliran oleh para santri kelas Tsanawiyah dan Aliyah yang masuk malam dan tidak diwajibkan bagi santriwati dan siswa Ibtidaiyah yang masuk pagi. (Imam Mubarok)

Lagi, Video Porno Gegerkan Kediri

Kediri Kembali Digegerkan Video Porno
*Judulnya Novi GDNG.1000, Durasinya 3 Menit 50 Detik

KEDIRI-RADAR- Setelah sempat digegerkan dengan video mesum bertajuk Reality Show Cah Uniska (RSCU) yang ternyata tidak terbukti. Kediri kembali digegerkan dengan munculnya video mesum bertitel Novi GDNG.1000
Untuk video yang kedua ini polisi berani memastikan asli produk Kediri. Yakni dilakukan oleh dua warga Gedang Sewu Kecamatan Pare di Hotel Bismo Kampungndalem Kota Kediri pada Agustus 2006 lalu. Tidak hanya memastikan produk asli polisi berhasil juga menangkap kedua pelakunya Yakni Novi Puspitasari (25) dan Ken Sanada (26) keduanya warga Gedangsewu Pare.
Pengungkapan kasus ini berawal dari laporang beberapa orang ke Polsek Kota Pare. Dimana laporan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan mencari barang bukti, sebab video hubungan badan tersebut sudah banyak beredar di masyarakat melalui media handphone.
“ Akhirnya kami mendapatkan barang buktinya setelah kami selidiki ternyata si perempuan warga Gedangsewu. Ia langsung kami amankan, namun belum untuk si laki-laki, karena dalam video wajahnya tidak kelihatan. Namun akhirnya kami berhasil mengetahui setelah Novi mengaku,” kata AKP Basuki Kapolsek Kota Pare pada RADAR Surabaya, Sabtu (24/2).
Mendapat nama pemeran laki-laki polisi langsung menjemput Ken Sanada di rumahnya. Ken tidak melawan saat polisi meringkus dirumahnya. Kepada wartawan lelaki lajang ini mengaku pada awalnya tidak bermaksud menyebarkan video hubungan badannya dengan Novi yang dikenal sebagai wanita panggilan dengan harga Rp250 ribu per tiga jam itu.
“Beredarnya video ini karena HP saya yakni Sony Ercson K700i dipinjam Jayak teman saya warga Semanding Pare. Saya lupa kalau di HP tersebut tersimpan video saya saya dengan Novi,” kata Ken setelah ditangkap polisi.
Namun hal tersebut dibantah Jayak, menurut Jayak justru Ken lah yang mengedarkan video tersebut,” Dia sering menunjukkan video tersebut ke beberapa teman-teman bahkan ada pula yang ditransfer,” kata Jayak.
Hingga kini kedua pelaku dan juga Jayak masih diamankan di Mapolsek Kota Pare untuk dimintai keterangan. Selain itu polisi juga mengamankan Multi Media Card (MMC) dan HP milik pelaku sebagai barang bukti. (aro)

Syaiful Muslimin Dilaporkan Walikota

Asisten II Pembangunan Dilaporkan Dirut PDAM ke Walikota
*Akibat Mengangkat 34 Karyawan Baru Saat Menjabat

KEDIRI-RADAR- Masalah demi masalah terus bermunculan di tubuh PDAM Kota Kediri sampai 3 Februari lalu, utang yang awalnya hanya Rp 2,3 miliar, sudah membengkak menjadi Rp 5,03 miliar. Inilah yang dirasa berat bagi manajemen perusahaan tersebut. Belum ditambah permasalahan penambahan karyawan baru yang jumlahnya mencapai 34 orang, hingga akhirnya Plt Dirut PDAM Harry Muller melaporkan Syaiful Muslimin Dirut PDAM lama kepada Wali Kota Kediri Drs HA Maschut.
Tidak hanya itu kabarnya 34 karyawan baru di tubuh PDAM itu adalah titipan para pejabat yang dititipkan kepada Syaiful Muslimin sebelum akhirnya ia menjabat sebagai Asisten II Sekkota Bagian Pembangunan. Hingga akhirnya Harry Muler terpaksa melapor kepada Wali Kota Maschut terkait langkah apa yang harus ia lakukannya.
“ Saya memang melaporkan masalah tersebut kepada walikota karena saya pejabat baru dan tidak mungkin akan melakukan pemecatan pada karyawan yang diangkat oleh pejabat lama, disamping laporan ini adalah hal yang wajar dilakukan pejabat baru kepada atasanya,” kata Harry pada RADAR Surabaya, Jumat (23/2).
Ditambahkan Harry dirinya tidak menampik jika saat menjabat menjadi Dirut PDAM kemarin Syaiful banyak memasukkan karyawan baru yang tersebar di beberapa bagian,” Jumlahnya ada kurang lebih 34 orang karyawan dan tersebar di beberapa bagian,” jelasnya.
Disoal apakah dirinya merasa keberatan dengan penambahan karyawan tersebut sebab saat ini hutang PDAM mencapai Rp5 miliar,” Kalau dibilang keberatan sebenarnya tidak tapi hanya membebani,” katanya.
Sekadar mengingatkan, sejak mendapat pinjaman Bank Dunia sebesar Rp 2,3 miliar pada 1996, PDAM Kota Kediri hanya sempat mengangsur dua kali. Totalnya Rp 1,2 miliar. Selebihnya, PDAM tidak mampu lagi membayar bunganya. Apalagi, melunasi utang pokoknya. Sehingga, nilainya terus membengkak sampai mencapai Rp 5,93 miliar pada bulan ini.
Sementara itu dikonfirmasi terpisah Komisaris PDAM Kota Kediri yang juga Wali Kota Kediri Drs HA Maschut belum berhasil dikonfirmasi hingga berita ini diturunkan demikian juga dengan Syaiful Muslimin. (aro)

Syaiful dan Iwan Dituding Dalang Gagalnya Muscab PD

Ketua DPC Partai Demokarat Tuding Iwan Budianto dan Asisten II Dalang Gagalnya Muscab

KEDIRI-RADAR- Gagalnya Musyawarah Cabang I Partai Demokrat (PD) Kota Kediri yang digelar pada Rabu (14/2) menurut Yudi Prahoro Ketua DPC PD akibat campur tangan birokrat dan pihak luar untuk kepentingan Pilwali 2008 mendatang.
“ Yang jelas yang ikut main disini saya berani katakan adalah Syaiful Muslimin Asisten II Pembangunan dengan membawa dua orang yakni Slamet mantan Kasdim Kediri dan Sofiaji Mardjoko mantan Ketua Partai Demokrat,” kata Yudi pada RADAR Surabaya, Jumat (23/2).
Menurut Yudi tidak hanya Syaiful Muslimin yang ikut bermain namun juga manager Persik Kediri Iwan Budianto dengan mengusung calon dari suporter Persik,Indus.
“ Iwan juga turut bermain disini, dengan berkali-kali digagalkan oleh DPP ini setingnya mereka biar bisa lebih punya persiapan yang matang untuk menguasai permainan dalam Muscab. Sebab kemarin mereka belum siap dan punya persiapan yang matang,” tambah Yudi.
Ditambahkan Yudi bahwa dirinya sempat mendapat kabar kalau beberapa pengurus PAC dan Pengurus Ranting dalam Muscab yang akhirnya gagal kemarin diculik,” Saya mendapat laporan mereka diculik, sebenarnya waktu itu saya suda mau lapor polisi, tapi saya tidak menyebutkan siapa yang melakukan aksi kedua ini,” jelasnya.
Menanggapi tudingan tersebut Syaiful Muslimin membantah keras,” Tidak mungkin saya ikut campur dalam gagalnya Muscab I Partai Demokrat kemarin. Apalagi tudingan itu dilontarkan Yudi yang sering bertemu dengan saya dan hubungan saya dengan dia juga baik-baik saja,” kata Syaiful.
Iwan Budianto sendiri mendengar tudingan itu mengaku kaget, sebab selama ini dirinya hampir tidak pernah berurusan dengan partai politik pasca gagal dalam Pilkada 2005 ketika dirinya mencalonkan sebagai wakil bupati duet dengan Abu Muslih.
“ Saya ini sudah pusing memikirkan tim yang lagi banyak masalah, jadi sangat tidak mungkin sampai memikirkan yang jauh ke depan apalagi ada kepentingan dengan Pilwali 2008 mendatang hingga ikut bermain dalam penggagalan Muscab Partai Demokrat” kata Iwan yang juga menantu Wali Kota Kediri Drs HA Maschut ini.
Ditambahkan Iwan, majunya Indus yang nota bene dari Pengurus Yayasan Suporter Persikmania itu karena keinginan mereka untuk membantu Persik di tahun-tahun mendatang jika mereka bisa menjadi anggota legeislatif.
“ Masak orang minta doa restu untuk kebaikan tidak kita restui, apalagi yang minta doa restu orang kita sendiri yang selama ini membantu Persik. Dari keterangan mereka ingin maju itu semata-mata diharapkan nantinya bisa membantu persik jika mereka menjadi anggota legislatif. Bahkan rencanannya dari yang saya dengar mereka tidak hanya akan maju menjadi kandidat di Partai Demokrat tapi juga partai-partai yang lain. Jadi sekali lagi tuduhan itu sangat tidak beralasan dan mengada-ada,” jelas Iwan.
Seperti diketahui Musyawarah Cabang I Partai Demokrat (PD) Kota Kediri yang dijadwalkan digelar pada Rabu (14/2) pukul 09.00 akhirnya gagal dilaksanakan. Gagalnya acara ini hanya gara-gara DPP PD menyatakan belum memberikan mandat kepada utusan yang akan memimpin Muscab di Kota Kediri.Akibatnya ratusan kursi yang telah disediakan di Hotel Grand Surya Jl Dhoho kosong, sebab tidak ada satupun peserta Muscab yang datang dan hadir. (aro)