Satu Anggota Dewan Nekat Berangkat

Husni Syam dari PPP Nekat Berangkat
* Ketua Harian Persik Ancam Laporkan ke BK

KEDIRI-RADAR- Sementara itu Husni Syam salah satu anggota DPRD dari PPP menyatakan nekat tetap akan berangkat meski secara kelembagaan DPRD Kota Kediri melarang anggota DPRD untuk berangkat ke luar negeri (Sydney dan China,red)
“ Saya tetap akan berangkat bersama istri saya, sebab saya sangat cinta dengan Persik, meski harus cuti selama satu minggu tidak masalah,’ tukas Husni Syam pada wartawan, sambil menunjukkan dua paspornya yang telah diurusnya pada tahun 2004 lalu.Senin (16/4).
Menanggapi kenekatan Husni Syam, Heru Ansori anggota dewan yang lain yang juga anggota Pengurus Harian Persik (Wakil Ketua III) menyatakan tetap melarang anggota DPRD ikut menjadi supporter.
“ Kalau nekat berangkat maka akan kami laporkan ke Badan Kehormatan (BK) terkait dari mana asal uang keberangkatan dan lain sebagainya. Jika terbukti menggunakan anggaran persik maka tidak segan-segan kami mendesak BK untuk memberikan sanksi yang berlaku,” kata Heru Ansori. (aro)

DPRD Kota Kediri Gocik…..

DPRD Kota Kediri Gocik
* Dikritik Gagal Berangkat ke Sydney dan China

KEDIRI-RADAR- Ternyata anggota DPRD Kota Kediri Gocik alias keweden alias jereh, Rencana keberangkatannya ke Sydney dan China akhirnya gagal setelah banyak menuai kritikan.Penegasan itu disampaikan oleh Ketua Panita Pelaksana Persik Bambang Sumaryono, Senin (16/4).
“ Setelah terjadi kesepakatan antara Ketua DPRD, walikota dan Panpel para anggota DPRD Kota Kediri yang berencana ikut menjadi supporter akhirnya digagalkan. Penggagalan ini lebih karena memperhatikan suara rakyat yang tidak setuju mereka berangkat. Sebab keberangkatan mereka ke luar negeri meski menggunakan anggaran Persik kan tetap berasal dari APBD,” kata Bambang Sumaryono Ketua Panpel Persik Kediri pada RADAR Surabaya , Senin (16/4).
Ditambahkan Bambang, sebenarnya para anggota DPRD ini sanggup untuk membayar keberangkatan mereka ke luar negeri dengan biaya pribadi. Namun nama mereka melekat menjadi anggota DPRD keberangkatan mereka tetap akan menjadi masalah.
“ Saya mengacungkan acungan jempol kepada teman-teman (wartawan,red) yang gencar menyuarakan suara rakyat hingga akhirnya para anggota DPRD tidak jadi berangkat. Dan ini juga akan membawa citra anggota DPRD ke depan bahwa mereka masih memihak kepada rakyat,” tambah Bambang.
Seperti diketahui, rencananannya 30 anggota DPRD Kota Kediri akan diajak serta oleh pihak Persik Kediri sebagai supporter dengan memanfaatkan anggaran Persik tahun 2007 senilai Rp15 miliar.
Dari 30 anggota DPRD mereka akan dibagi menjadi dua bagian yakni ke Sydney 25 April 2007 dan ke China 23 Mei 2007. Namun karena banyak polemik dari 30 anggota DPRD baru 7 orang yang menyatakan siap berangkat, namun pada perkembanganya akhirnya mereka menggagalkan diri berangkat. (aro)

Sisakan Pertanyaan Tentang Kematian Eka

Kepulangan Jenazah Eka Yuanita, TKW Asal Blitar Menyisakan Misteri

BLITAR- Kematian Eka Yuanita (27) tenaga kerja wanita (TKW) asal Desa Kembang Arum, Kec. Sutojayan, Kabupaten Blitar menambah daftar nama deretan korban TKW asal Indonesia yang meninggal di luar negeri. Kematian Eka masih menyisakan misteri apakah dia benar tewas akibat tersengat listrik atau ada penyebab yang lain.
Pihak keluarga Yuyun sapaan akrab Eka Yuanita meyakini, anaknya tidak tewas akibat tersengat listrik. Mereka percaya putri sulung Mudjito dan Siti Asiyah tersebut, tewas karena sebab lain.
”Banyak kejanggalan-kejanggalan yang mengiringi kematian Yuyun. Di Taiwan, instalasi listrik disana sangat aman. Sehingga kecelakaan seperti tersengat listrik kecil kemungkinannya,” Kata Sudarmianto (30) kekasih almarhum Yuyun saat wartawan ditemui seusai pemakaman korban di Desa Kembang Arum, Minggu pagi (15/4)
Sudarmianto menuturkan, yang membuat aneh adalah kenapa yang tersengat aliran listrik kaki kanan ”Pertanyaan ini, yang nampaknya tidak ada jawaban. Sebab, surat kematian dari Taiwan sudah memvonis Yuyun tewas akibat tersengat aliran listrik pada kaki kanan,” tambahnya
Kendati demikian, sebagai wakil keluarga, Sudarmianto berharap, hak-hak Yuyun dikembalikan Hak yang dituntut diantaranya adalah gaji selama 5 bulan tinggal di Taiwan. Tiga bulan gaji pertama adalah gaji dari majikannya. Dua bulan lagi, adalah gaji Yuyun setelah kabur dari majikannya yang pertama.
”Selain itu, masih ada asuransi Yuyun yang dibayarkan sebelum berangkat ke Taiwan. Kami juga meminta barang-barangnya dikembalikan,” ungkapnya.
Yuyun mengais rezeki di Taiwan melalui PT Danamon Wahana Tenaga Kerja Jakarta pada September 2006. Pemegang paspor bernomor B109875 itu, akhirnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Hung Ruei Lin. Sebelum menunggal, Pada Februari 2007, Yuyun sempat memberi kabar telah pindah majikan.
Hal itu disebabkan, dia merasa pekerjaannya terlalu berat karena tidak sesuai dengan kontrak yang dijanjikan. Ia akhirnya melarikan diri dari rumah majikannya. Gadis berkulit kuning langsat itu, pindah ke rumah Mr Thing. Ia kemudian dipekerjakan di pasar. Sebelum dinyatakan meninggal dunia pada 3 Maret 2007, ia sempat memberi kabar akan mengirim uang ke rumahnya.
Sejak itu, upaya membawa pulang jenazah Yuyun dilakukan pihak keluarga melalui PT Danamon Wahana Tenaga Kerja. Upaya yang dilakukan membutuhkan waktu hampir satu bulan. Setelah melalui proses panjang, jenazah diterbangkan dari Taipei, Taiwan, menuju Surabaya.
Kamar Dagang Ekonomi Indonesia (KADEI) di Taipei, menerbangkan jenazah Yuyun menggunakan pesawat Eva Air dengan nomor penerbangan BR 231, berangkat dari Taiwan pukul 18.40 waktu setempat Sabtu (14.4), dan tiba di Bandar Udara Juanda 22.30 Sabtu malam (14/4).
Jenazah tiba di rumah duka dari Surabaya, Minggu (15/4) pukul 03.30. Setelah disalatkan, jenazah putri sulung Mudjito dimakamkan di taman pemakaman umum Desa Kembang Arum, pukul 09.30 .
Hadir dalam pemakaman, pejabat Disnaker Trans Kab. Blitar, perwakilan PT Danamon Wahana Tenaga Kerja, dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia yang diwakili Sejahtera S Meliala.
Menanggapi tuntutan pihak keluarga, I Dewa Putra Sunjaya, Direktur Operasional PT Danamon Wahana Tenaga Kerja, mengatakan, pihaknya sudah berupaa keras untuk secepatnya mengembalikan jenazah Yuyun ke Indonesia.
Total biaya yang dikeluarkan mencapai Rp35 juta khusus sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan. ”Kita akan memerjuangkan asuransi Yuyun yang dibayarkan sebelum keberangkatan. Sedangkan soal gaji selama 5 bulan di sana, kami tidak bisa,” ungkap Dewa.
Ia menjelaskan, permasalahannya Yuyun kabur dari majikan yang pertama. Sehingga, proses pengembalian gaji sudah final. Dalam perjanjian bila TKW kabur dari majikan, gajinya batal karena melanggar perjanjian. Apalagi, perusahaan kehilangan kontak setelah kabur dari majikan yang pertama. ”Ini yang membuat kami tidak bisa. Mudah-mudahan dana asuransi bisa dicairkan secepatnya,” tukas Dewa. (***)

1415 Ibu Hamil Pecahkan Rekor MURI

1415 Ibu Hamil Senam Bareng di Kota Kediri
* Tiga Diantaranya Dilarikan ke Rumah Sakit Karena Kebelet Malahirkan

KEDIRI-RADAR- Setelah sehari sebelumnya memecahkan rekor MUIRI yakni minum obat cacing dengan melibatkan 15 ribu anak-anak dan orang dewasa. Minggu (15/4) kembali Pemkot Kediri memecahkan rekor MURI dengan melibatkan 1415 ibu hamil untuk melakukan senam massal yang dilakukan di Stadion Brawijaya.
Menariknya target Pemkot Kediri untuk senam ibu hamil ini adalah 1128 ibu hamil karena disesuikan dengan hari jadi Kota Kediri yang jatuh pada 27 Juli mendatang yang ke 1128. Namun jumlah ibu hamil di Kota Kediri banyak, jumlah pesertanya membludak hingga 1415 ibu hamil.
Sri Widayati Representatif MURI kepada Radar Surabaya menjelaskan bahwa rekor yang diraih Kota Kediri senam massal ibu hamil adalah rekor yang ke 2464 yang melibatkan 1415 ibu hamil. Rekor ini mengalahkan rekor sebelumnya yang dilakukan Pemda DKI Jakarta pada Agustus 2006 lalu dengan melibatkan 1055 ibu hamil.
Dari catatan RADAR Surabaya dalam melibatkan ibu-ibu untuk memecahkan rekor MURI Pemkot Kediri pada tahun 2003 juga pernah memecahkan rekor MURI dengan melibatkan 1000 lebih ibu-ibu yang menyusui secara serentak yang dilaksanakan di GNI Kediri.
“ Maka tahun ini kita juga membuat sesuatu yang menarik dan bermanfaat yakni melaksanakan kegiatan minum obat cacing massal dan senam ibu hamil massal,” kata Wali Kota Kediri Drs HA Maschut pada RADAR Surabaya.
Dari ribuan peserta yang hadir di Stadion Brawijaya yang mengikuti senam mulai pukul 07.30 hingga pukul 09.00, tiga diantaranya terpaksa dilarikan ke RSUD Gambiran karena sudah tidak tahan alias kebelet mau melahirkan. Beruntung panitia telah menyediakan puluhan tenaga medis dan ambulance untuk siap-siap jika mereka melahirkan saat melakukan senam.
Ketiga ibu hamil yang kebelet melahirkan saat pelaksaan senam yakni Sariem (23) warga Semampir Kota Kediri, Sariem rencanannya akan melahirkan anak keduanya. Kedua Erna Sarlota (27) warga Balowerti Kota Kediri, Erna berencana akan melahirkan anak pertamannya. Dan ketiga Nunik Setyaningsih (25) warga Bandar Ngalim Mojoroto Kota Kediri,dia juga akan melahirkan anak pertamannya.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr Gatot Widiantoro dari ketiga ibu hamil yang hendak melahirkan tersebut, semua biaya ditanggung Pemkot Kediri,”Ini adalah bentuk pelayanan kita, disamping memberikan hadiah-hadiah yang menarik kepada mereka, kita juga memberikan service kepada yang hendak melahirkan saat mereka mengikuti,” ujar Gatot.(aro)

Longsor Robohkan Dua Rumah

Dua Rumah Di Kediri Hancur Dilanda Longsor,
* 10 Rumah Terancam Ambruk

KEDIRI-RADAR- Derasnya hujan yang terus-menerus turun mengguyur wilayah Kabupaten Kediri, menyebabkan dua rumah hancur dan sepuluh lainya terancam roboh di wilayah Desa Petok Kecamatan Mojo Kediri, Minggu (15/4).
Longsor terjadi di kawasan pinggiran anak sungai Brantas Desa Petok, membuat warga setempat ketakutan dan mengungsi bahkan ada sebagian terpaksa membongkar rumahnya karena takut terjadi longsor susulan.
“Longsor terjadi akibat gerusan air sungai sangat kuat disertai hujan yang sangat deras. Hal itu menyebabkan rumah-rumah yang berada di pinggiran sungai ikut tergerus dan terbawa longsor,” kata Sukamto, Ketua RT
IV/RW 3, Desa Petok pada RADAR Surabaya, Minggu (15/4).
Dua rumah yang roboh adalah milik Kasemi dan Mustakim, warga Desa Petok. Sedangkan 10 rumah yang terancam roboh, adalah milik tetangga Kasemi dan Mustakim yang saat ini sudah dikosongkan.
Pengosongan rumah itu dilakukan karena hujan yang terus turun dan terus mengguyur hingga mengakibatkan permukaan Sungai Brantas semakin tinggi.
“Saat ini warga yang tinggal di pinggiran sungai berusaha mengamankan barang-barangnya ke tetangga mereka yang lokasinya agak jauh dengan lokasi longsor, agar tidak terjadi korban jiwa,” tambah Sukamto.
Tanda-tanda akan terjadinya longsor sebenarnya sudah terjadi sejak empat hari lalu, dimana longsor sedikit demi sedikit terus menggerus pinggiran sungai.
Saat itu warga sudah melaporkan ke aparat desa agar diteruskan ke Pemerintah Kabupaten Kediri. Ironisnya, hingga menelan korban rumah, laporan itu sama sekali tidak mendapat tanggapan dari Pemkab Kediri .
Kasemi, warga yang rumahnya roboh mengaku sangat bersedih kehilangan rumah. Dan yang membuatnya semakin sedih karena sebelum rumahnya hancur, dia sudah melaporkan ke aparat desa namun tidak mendapat tanggapan.”Kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Belum tahu mau tinggal dimana nanti. Saat ini untuk semnetara numpang di tetangga,” kata Kasemi.
Hal senada diungkapkan Mustakim, warga yang rumahnya juga hancur. Selain sudah tidak memiliki rumah, untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari dia tidak memiliki stok bahan makanan.”Kami berharap pemerintah memberikan bantuan untuk memperbaiki rumah kami yang hancur serta membangunnya kembali. ” pinta Mustakim (aro).

Yang Muda dan Yang Tua Minum Obat Cacing….

15 Ribu Pelajar dan Orang Tua Minum Obat Cacing Bareng

KEDIRI-RADAR- Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Kediri, memecahkan Musium Rekor Indonesia (MURI) karena mengikut sertakan 11.965 pelajar dan 3.035 orang tua untuk minum obat cacing secera serentak di Stadion Brawijaya Kedri, Sabtu pagi (14/4).
Sri Widayati Representatif MURI kepada Radar Surabaya menyatakan rekor yang dipecahkan oleh Kota Kediri ini merupakan rekor ke 2.463,” Secara serentak dan pesertanya terbanyak memang baru di Kota Kediri. Kalau minum susu secera serentak dengan jumlah peserta sama pernah dipecahkan oleh Kota Malang beberapa waktu lalu,” kata Widayati.
Dari pantauan RADAR Surabaya peserta minum obat cacing ini diikuti peserta mulai siswa taman kanak-kanak hingga SMU yang ada di Kota Kediri yang sejak pukul 07.00- 09.00 duduk di tribun Stadion Brawijaya.
Sedangkan untuk orang tua pesertanya mulai dari Wali Kota Maschut bersama staf dan Muspida dan juga orang tua wali murid yang mendampingi anak-anaknya,” Ini merupakan program UKS dan menyambut Indonesia sehat tahun 2010 dan ini sangat luar biasa,” kata Maschut.(aro)

Lagi, TKW Tewas dan Korban Trafficking

Lagi, TKW Korban Trafficking Asal Blitar Meninggal Dunia
* Jenazah Sempat Tertahan di Taiwan Satu Bulan

KEDIRI-RADAR- Setelah genap satu bulan Jenazah TKW Asal Blitar Eka Yuanita (27) warga Sutojayan Ludoyo yang sempat tertahan di Taiwan akhirnya berhasil dipulangkan ke Blitar.
Eka yang menurut Nur Harsono Divisi Advokasi Migrant Care Jakarta kapada RADAR Surabaya, adalah korban korban trafficking atau perdagangan manusia. Berdasarkan surat Nomor 0435/img/KDEI/IV/2007 dari Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia jenazah Eka dipulangkan pada Sabtu 14 April 2007 pukul 18.40 (waktu Taiwan).
Jenazah diangkut dengan menggunakan Pesawat Eva Air BR 231 melalui Bandara Internasional Taoyuan Taiwan dengan Tujuan Bandara Internasional Juanda Surabaya sekitar pukul 22.35 dan diteruskan ke Blitar dengan menggunakan ambulance.
“ Jelas korban ini adalah kornban trafficking,hal ini dapat dilihat dari proses pemberangkatan korban yang syarat dengan sindikit trafficking. Eka diberangkatkan oleh PT Danamon Wahana Tenaga Kerja dengan berbekal dokumen palsu, mulai dari nama, usia dan alamat. Demikian juga dengan perjanjian kerjannya.Sedianya Eka akan diperkerjakan sebagai sebagai PRT, namun realisasinya dia diperkerjakan sebagai pelayan restoran milik Hung Kwie Lien di Taipei Taiwan,”kata Nur Harsono.
Ditambahkan Nur Harsono, karena tidak kuat bekerja di tempat Hung Kwie Lien itulah kemudian dia melarikan diri,” Bagaimana selanjutnya dia kemudian dia meninggal akibat kesetrum listrik kami belum mendapatkan detailnya dan saat ini masih kita urus,” jelasnya.
Seperti diketahui Eka sebelumnya juga pernah bekerja di Taiwan yaitu pada pertengahan tahun 2003-2006 melalui PT Danamon Wahana Tenaga Kerja sebagai pembantu rumah tangga melalui jalur “kawin kontrak”.
“ Praktek ini merupakan sindikat trafficking yang seringkali terjadi dalam pengiriman buruh migrant ke Taiwan dan telah terbukti banyak menimbulkan korban. Selain itu korban juga mengakui itu pada pacarnya yang ada Blitar Sudarmianto kalau dirinya pernah menjadi korban kawin kontrak di Taiwan,” tegasnya.
Bercermin pada kasus itu, Migrant Care menyerukan kepada Presiden SBY untuk segera menandatangani UU Trafficking yang telah disahkan oleh DPR RI pada 23 Maret lalu,” Penandatanganan UU ini diharapkan segera bisa berlaku efektif untuk mencegah massifnya praktek trafficking,” ungkap Nur. (aro)