Paguyuban Umat Beragama Gelar Larung Sesaji di Sungai Brantas

Disadari atau tidak mayarakat Kota Kediri sudah banyak diberi manfaat oleh keberadaan Sungai Brantas.  Keberadaan Sungai Brantas berdasarkan cerita sejarah muncul karena keinginan Raja Kediri Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa untuk membagi kerajaan menjadi dua bagian, yakni Janggala dan Pangjalu sekitar tahun 1042 M untuk kedua putranya dengan bantuan Mpu Bharada, pendeta sakti yang tinggi ilmu agamannnya.

Untuk itu sebagai upaya syukur atas itu semua pada Yang Maha Kuasa, Sabtu (7/7) diadakan larung sesaji di Sungai Brantas yang melibatkan lima agama yang tergabung dalam paguyuban antar umat beragama.

Sebenarnya upacara larung sesaji di Sungai Brantas  dilakukan sejak zaman kerajaan Kediri. Namun pada kelanjutannya mereka generasi penerus banyak yang melupakan sejarah. Hingga pada akhirnya hanya dilakukan orang per orang dan kelompok tertentu sebagai ucapan terimakasih pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebab dengan keberadaan Sungai Brantas  menjadikan Kediri “gemah ripah loh jinawi”

            Larung sesaji juga sebagai upaya mendongkrak wisata Kota Kediri yang kini mulai digalakkan, pemerintah Kota Kediri akhirnya mengadopsi kebudayaaan yang telah dilakukan secara turun temurun itu dalam acara yang besar dan berkelanjutan, nantinya.

Keberadaan paguyuban antar umat beragama besar andilnya pada pelaksanaan acara larung sesaji kali ini yang bisanya hanya dilakukan oleh umat Hindu dan Budha saja. “Penyelenggaraan upacara adat larung sesaji ini tidak semata-mata dilihat dari bentuk lahirnya saja. Akan tetapi yang lebih esensial adalah mengangkat nilai-nilai hakiki yang terlebih dari itu, guna mendukung dan mewujudkan program pemerintah Kota Kediri sebegai kota wisata.,” kata Dra Ida Indrayati MM  Ketua Panitia  yang juga Kepala Kantor Dinas Pariwisata Kota Kediri.

            Beberapa sesajen  yang disiapkan dalam acara larung sesaji tersebut antara lain, buceng kuat yang mengejawentahkan upacara syukuran tehadap Tuhan Yang Maha ERsa atas segela kekuatan lahir dan bathin.

Buceng robyong, merupakan pengimplementasian ucapan syukur terhadap Tuhan atas kebersamaan yang terjalin antara pemimpin dengan rakyatnya dengan sesanti (semboyan,red) manunggaling kawula marang Gusti dan manunggaling Gusti marang kawulo.

            Tidak hanya buceng kuat dan buceng robyong, sesajen juga berupa kepala kerbau dan lelawuhan (berbagai lauk pauk,red) yang bermakna harapan masyarakat Kota Kediri mendapatan kesejahteraan dan kemakmuran .

Masyarakat Kediri rela mengorbankan harta benda maupun jiwa demi kepentingan bersama untuk memperoleh keselamatan. Sedangkan raja kaya (hewan berkaki empat,red)  yang juga ikut dilarung memberikan makna para pemimpin di Kota Kediri mampu menciptkan rasa persatuyan dan kesatuan serta rasa persaudaraan dan kekeluargaan.

            Berbagi hasil hasil bumi juga ikut dilarung sebagai uangkapan syukur terhadap Tuhan atas aktivitas yang telah dilaksanakan oleh masyarakat Kota Kediri dengan pemberian segala kebutuhan hidup. Dan yang terakhir sesajen yang dilarung berupa kembang setaman, kembang ponco warna (lima warna,red), telon, cok bakal  dan dupa yang harum serta sesaji yang lain. Semuanya itu dikandung maksud sebagai simbol atas segala permohonan masyarakat Kediri untuk menolak bencana dan malapetaka yang datang dari segala penjuru yang ada.

            Acara yang dilakukan besar-besaran kali ke dua di usia Kota Kediri ke 1128 pada 27 Juli nanti benar-benar menyerap penonton dari berbagai kelas,” Kita berharap tahun depan ini bisa menarik wisatawan lokal maupun mancanegara,” harap Wali Kota Kediri Drs HA Maschut . (Imam Mubarok)

 

5 gagasan untuk “Paguyuban Umat Beragama Gelar Larung Sesaji di Sungai Brantas

  1. Apa benar di sungai brantas ada, buaya puTih nya,truz kura2(buluz) n jg dayang2 yg menunggu d sungai brantas trsebut? Cz koN0n,bnyk crta.. Ad org yg sRing hilang di sungai tsb n mayatnya pun blm pernah di ketemukan. Thanx

  2. sayarasa upacara larung sesaji cukup dgn do,a dari kepercayaan masing2 tak perlu buang2 makanan.daripada makanan di buang lebih baik dibagikan pada penduduk miskin yng memerlukan masih banyak orang kediri yng miskin.berterimakasih pada sng brantas yng paling baik ya dijaga kebersihannya,jangan dibuangin sampah.sungai tak butuh makanan apalagi yng mencipta sungai,makanan hanya utk manusia dan hewan

  3. konon sungai brantas di buat oleh murid dari WALI SONGO.yang sekarang makamnya ada di desa bakalan kec.banyakan.
    sungai brantas dibuat dengan cara menggaris tanah dengan kayu dan akirnya jadi sungai brantas ini.apa benar begitu?
    thank………

  4. Ping-balik: Astagfirullah!! PPP Dekati Aliran Sesat LDII Jelang Pilpres 2014 | Islam & Aliran Sesat

  5. Ping-balik: Antara tokoh partai, aliran sesat LDII, dan paguyuban aktivis sesajen | Islam & Aliran Sesat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s