Persedikab Keok Nda !

Persik Gunduli Persedikab 6 : 0
* Babak Penyisihan Grup B East Java’s Governor Championship

KEDIRI- Kesebelasan Persik Kota Kediri berhasil menggunduli “saudara tuanya” Persedikab Kabupaten Kediri dengan skor 6-0 (5-0) dalam babak penyisihan Grup B ajang Piala Gubernur V atau East Java’s Governor Championship (EJGC V) di Stadion Brawijaya, Kediri, Sabtu (25/11)
Dalam pertandingan yang disaksikan sekitar 15 ribu pasang mata itu striker asal Uruguay Christian Gonzales berhasil mencetak empat gol (quattrick) masing-masing di menit 5, 7, 38, dan 83.
Sedang dua gol lagii dicetak melalui kaki pemain asal daratan Amerika Latin lainnya yang turut mengantarkan Persik meraih juara Divisi Utama Ligina XII/2006, Danillo Fernando, di menit 10 dan 43.
Sejak peluit kick off babak pertama dibunyikan wasit Suwartono asal Mojokerto, Persik menunjukkan kelasnya dengan tampil menekan ke jantung pertahanan lawan melalui Ronald Fagundez dan Budi Sudarsono.
Sementara meski dalam tekanan, Persedikab yang merupakan kontestan Divisi I Ligina sendiri bukan tanpa peluang dalam pertandingan tersebut. Kapten Persedikab tercatat dua kali memperoleh peluang emas di babak pertama, yakni menit 14 ketika tendangan bebas tipis di atas mistar gawang lawan dan di menit 36 ketika tendangan kerasnya berhasil ditepis kiper Persik Kurnia Sandy.
Dalam pertandingan itu wasit hanya mengeluarkan satu kartu kuning untuk pemain Persedikab Agung Wahyudi yang melakukan pelanggaran terhadap Christian Gonzales di menit 26.
Kendati kalah telak, namun manajer Persedikab Sony Sandra mengaku tidak terlalu kecewa lantaran kelasnya jauh di bawah lawannya yang telah dua kali menjuarai kompetisi Divisi Utama Ligina. Selain itu meski Persedikab yang bermarkas di Pare, Kabupaten Kediri lebih dulu berkiprah di pentas Divisi Utama Ligina pada 1993 dan 1997 ketimbang Persik yang baru sepuluh tahun kemudian, yakni pada Ligina IX/2003, tidak bisa menjadi jaminan . Sebab keberadaan Persedikab memang kurang mendapat dukungan khususnya dari Pemkab Kediri
“Soal kalah sampai 6-0 itu karena pemain kami masih muda dan mereka
menjadikan ajang ini untuk menimba ilmu saja. Permainan mereka lumayan dan tidak terlalu mengecewakan,” ujarnya.
Berbeda dengan pelatih Persik Daniel Roekito yang mengaku belum puas dengan penampilan anak asuhnya meski menang dengan skor cukup telak.
“Masih banyak kekurangan yang perlu segera dibenahi, terutama pada lini belakang. Belum seluruh kekuatan pemain dikerahkan, mereka baru memperlihatkan sekitar 60 persen saja,” ujarnya.
Dalam pertandingan tersebut lini pertahanan Persik terlihat kewalahan, karena hanya ada Aris Indarto dan Zaenuri sambil sesekali Ronald Fagundez ikut turun membantu.Beruntung serangan-serangan yang dibangun oleh para pemain Persedikab tidak terlalu membahayakan bagi lini pertahanan Persik sehingga dapat dengan mudahnya membantai suadara tuanya itu. (***)

Over Dosis, Meninggal

Istri Polisi Tewas Over Dosis

KEDIRI-RADAR- Suprihatin (43) warga Jl Kapten Tendean 112 Ngronggo Kota Kediri, Sabtu (25/11) ditemukan tewas diduga akibat over dosis minum obat penghilang sakit kepala yang dibeli di Toko Obat Redjo Jl HOS Cokroaminoto Kota Kediri.
Korban yang juga istri anggota Samapta Polresta Kediri Brigadir Suprianto (45) ditemukan kali pertama oleh Didit Alfianto (17) anak kandungnya sekitar pukul 06.00. Saat ditemukan korban mulutnya sudah dalam keadaan berbusa dan disampingnya ditemukan sisa obat yang baru diminumnya terdiri dari stanza (sama dengan ponsdtan,red), Dumin (sejenis paracetamol) dan Carbidu (berisi asam mefenamat atau sejenis dexametason).
“ Keterangan dari anak korban Ibunya sering mengeluh sakit kepala akibat darah tinggi dan minta dibelikan obat di Toko Redjo. Atas dasar keterangan dan keluhan yang didirita ibu korban si anak menyampaikan ke penjual obat dan diberi obat tersebut,” kata KBO Reskrim Polresta Kediri Iptu Edi H pada RADAR Surabaya.
Ditambahkan Edi, Anaknya mengetahui ibunya meninggal saat ia meminta uang saku sekolah,” Karena pintu terkunci dari dalam ia memanggil lewat jendela. Dari situlah dikatehui ibunya sudah dalam keadaan tidak bernyawa dan dia memanggil –manggil bapaknya yang persiapan mau berangkat kerja,” tambah Edi.
Melihat istrinya sudah dalam keadaan tidak bernyawa Suprianto langsung menghubungi Polsek Kota Kediri,” Setelah dilakukan olah TKP dan barang yang disentuh korban terakhir termasuk sisa air minum dan obat yang tersisa kita bawa ke RS Bhayangkara Kediri. Sementara untuk jenazah hanya kita visum luar, karena suaminya tidak menghendaki dilakukan otopsi,” jelas Edi.
Keterangan dari dokter RS Bhayangkara Kediri seperti dijelaskan KBO Reskrim Edi Herwiyanto obat yang diminum korban adalah obat bebas dan bukan termasuk daftar obat keras yang pembelianya harus dengan resep dokter.“ Dugaan awal kami korban sebelum minum obat belum makan akibatnya seperti itu, tapi kami akan terus menyelidiki,” katanya
Sementara itu terkait obat yang dibeli di Toko Redjo Kediri, Ir Kirono pemilik toko obat kini dimintai keterangan di Mapolresta Kediri,” Ia kita mintai keterangan sementara sebatas saksi, selain itu obat-obatan yang terkait dengan obat yang diminum korban kita bawa ke Polrsta untuk dijadikan barang bukti,” ungkap Edi. (aro)

Rusak ! Anggota TNI Edarkan Upal

Anggota TNI Edarkan Uang Palsu

KEDIRI-RADAR- Pratu Sutari anggota TNI AD Yonkaf Malang ditangkap bersama komplotanya, setelah pada Sabtu (25/11) dikejar ratusan massa karena diketahui membeli rokok dengan menggunakan uang palsu di Pasar Wonorejo Wates. Dari komplotan ini polisi mengamankan kurang lebih uang Rp70 juta uang pecahan Rp100 ribu.
Menurut keterangan Suwarno saksi yang mengetahui aksi tersangka kali pertama, tersangka berencana membeli rokok di warungnya. Namun karena uang yang diberikan kepada Suwarno tidak ada kembaliannya, maka uang tersebut ditukarkan di pedagang ayam di dalam pasar.
“Justru penjual ayam yang mengetahui kalau uang yang saya tukarkan adalah uang palsu. Tanpa menunggu komando saya dan penjual ayam langsung meneriaki orang tersebut dan sebagian mengejarnya,” kata Suwarno.
Mengetahui dikejar massa, pembeli rokok tersebut langsung melarikan diri dengan naik motor yang dikemudikan temannya. Ditambahkan Suwarno tidak semua pedagang ikut mengejar tersangka, ada juga sebagaian pedagang yang melapor ke Mapolsek Wates saat kejadian tersebut berlangsung. Dalam beberapa menit polisi datang sehingga terjadi kejar-kejaran antara warga, polisi yang sama-sama mengejar tersangka.
“ Dua orang tersebut ditangkap saat bersembunyi dirumahnya ketika mereka dikejar anggota Polsek Wates dan Warga. Penangkapan kedua orang ini berdasarkan keterangan Suwarno saksi yang melihat keduanya saat membeli rokok di warungnya,” kata Kombes Pol Tjuk Basuki Kapolwil Kediri pada RADAR Surabaya.
Ditambahkan Basuki, setelah ditangkap keduanya langsung digelandang ke Mapolsek Wates,” Dari kedua tersangka yang ditangkap ini salah satunya ternyata anggota TNI berpangkat Pratu yakni Sutari. Dia bertugas di Yonkaf Malang, sedangkan yang satunya Bukhori adik tersangka,” tambah Basuki.
Dari penangkapan keduanya ini polisi langsung mengembangkan kasusnya. Dimana diketahui ternyata Sutari memiliki kaki tangan di daerah Kresek Tempurejo Gampengrejo
” Dia bernama Nanang Kusminatoro (30), dia yang dipercaya Sutari mencetak uang karena memiliki keahlian dalam hal itu. Selain itu polisi juga mengamankan Lusianto warga Talun Blitar yang turut membantu Nanang,” jelas Tjuk Basuki.
Ditambahkan Kapolwil yang asli putra Kediri ini, di TKP selain mengamankan kedua tersangka dan alat mencetak uang. Polisi juga mengamankan uang siap edar senilai Rp10 juta pecahan Rp 100 ribu dan uang lembaran senilai kurang lebih Rp60 juta.
“ Kita masih terus mengembangkan kasus ini, sebab ada dugaan kuat para tersangka ini merupakan jaringan yang selama ini sudah tertangkap, salah satunya yang terbesar di Polresta Kediri beberapa waktu lalu dengan BB Rp600 juta,” kata Tjuk Basuki. (aro)

Lho Kok Iso ! LP Dadi Nggon Bakulan Pil Asu

LP Kelas II A Kediri Dijadikan Tempat Peredaran Narkoba

Siapa bilang lembaga pemasyarakatan sebagai tempat orang taubat. Sebab banyak juga penghuninya yang ternyata masih belum jera dengan hukuman yang ia jalani, sebagai bukti banyak narapidana mengkonsumsi narkoba yang dipasok dari luar. Dan ini sebagai bukti keamanan LP dipertanyakan ?
Wajar jika kemudian polisi menaruh kecurigaan di lembaga yang ada dibawah Departemen Hukum dan HAM ini. Atas dasar kecurigaan itulah, Kamis sore ( 23/11) tim Buser Polwil Kediri melakukan pengendusan di sekitar LP Kelas II A Kediri Jl Jaksa Agung Suprapto hingga memperoleh hasil yang memuaskan yakni 25. 840 pil koplo jenis lexotan dan double L.
Keberhasilan pengungkapan kasus ini bermula dari penangkapan Suprianto (23) warga Tulungrejo Pare yang ditangkap petugas di depan LP dalam keadaan kopler. Dari penggeledahan yang dilakukan terhadap tersangka petugas mengamankan pil jenis double L sebanyak 480 butir, uang tunai Rp250 ribu dan hand phone sony ericsson jenis K-300.
Pengakuan Suprianto pil – pil tersebut rencananya akan diberikan kepada adik Iparnya atas nama Sidiq yang kini ditahan di LP Kelas II A Kediri yang ditahan dalam kasus perampokan. Selain itu tersangka mengaku telah berulang kali berhasil menyelundupkan barang haram tersebut ke LP dengan cara dimasukkan ke dalam bungkus rokok.
Selain menemukan BB yang cukup bisa mencoreng LP. Polisi juga menemukan nomor HP yang disimpan di dompet Suprianto. Polisi menduga nomor HP tersebut adalah milik komplotan Suprianto.
Benar setelah ditunggu 30 menit setelah di hubungi Suprianto dengan pengawasan petugas, pemilik nomor HP tersebut datang di depan LP mendatangi Suprianto. Hingga akhirnya diketahui pemilik nomor HP tersebut adalah Ferry (24) warga Babakan Tugurejo Gampengrejo Kediri
Tanpa menunggu kesempatan petugas langsung mengamankan Ferry. Dari penggeledahan yang dilakukan petugas hanya menemukan kunci kamar yang disimpan di saku celanannya.
“Dari situlah awal mula kecurigaan kenapa dia membawa kunci kamar. Kamar kalau dikunci biasanya kan ada barang yang sifatnya rahasia. Dengan sedikit kita rayu akhirnya Ferry mau diajak ke rumahnya bersama Suprianto untuk barang yang rahasia itu,” kata Kompol Tulus Wahyu Widodo Kabag Bina Mitra Polwil Kediri pada RADAR Surabaya, Jumat (24/11).
Benar dugaan polisi ternyata setelah dibuka kamar Ferry petugas menemukan ribuan pil yang disimpan di bawah kolong tempat tidur Ferry. Pil tersebut terdiri dari 18.400 jenis lexotan dan 7000 jenis double L,” Saya yang selama ini memasok kebutuhan Suprianto ,” kata Ferry berterus terang.
Lalu dari mana Ferry mendapat pil kirik sebanyak itu ? Ternyata diketahui barang tersebut adalah warisan Hambar tersangka pil koplo dengan BB ribuan yang ditangkap Res Narkoba Polres Kediri beberapa waktu yang lalu. “Barang-barang tersebut adalah titipan Hambar sebelum ia ditangkap dan saya diserahi untuk memasarkan,” tukas Ferry.
Kedua tersangka kini diamankan di Mapolwil Kediri dan bersiap-siap tidur dalam jangka waktu yang lama dalam tahanan. Sedangkan polisi masih mempunyai PR yakni mengembangkan kasus tersebut di lembaga pemasyarakat kelas II A Kediri.
“ Pokoknya kita akan terus kembangkan kasus ini hingga kini menemukan titik terang komplotan ini. Selain itu kita akan mencoba masuk untuk mengadakan razia ke LP. Sebab selama ini LP kurang kooperatif dengan pemberantasan penyakit masyarakat yang merusak moral generasi bangsa ini. Kita berharap LP bersedia diajak kerjasama,” kata Tulus menambahkan.
Sementara Agus Joko Suhardono BcIp Kepala Lembaga Pemasyarakatan LP Kelas II A Kediri dikonfirmasi RADAR Surabaya membantah jika LP Kelas II A Kediri adalah tempat peredaran pil koplo.“Yang saya tahu LP yang saya pimpin sangat ketat, jadi tidak mungkin ada orang yang bisa memasukkan pil kedalam LP,” kata Agus.
Lalu bagaimana jika kenyataanya demikian ? Apakah pihak LP memperbolehkan polisi melakukan razia di LP,” Sebenarnya selama ini kami telah melakukan kerjasama dengan Bina Mitra Polresta Kediri terkait MoU antara Departemen Hukum dan HAM dan Polri terkait razia di LP, namun mereka tidak koopretif melaksanakan,” jelas Agus balik menyalahkan aparat kepolisian. (Imam Mubarok Muslim)

Wartawan Bakulan Pil Asu !

Oknum Wartawan Jadi Pengedar Pil Koplo

KEDIRI-RADAR- Hampir bersamaan dengan ditangkapnya jaringan pengedar pil koplo di LP Kelas II A Kediri dengan BB 25.840 pil jenis double L dan lexotan. Jajaran Reskoba Polresta Kediri juga bergasul mengamankan 11.584 pil jenis lexotan dan double L, dimana salh satu tersangkanya diketahui seorang oknum wartawan sebuah tabloid di Kediri.
Penangkapan jaringan pil kirik ini bermula dari ditangkapnya Suwito alias Boyo (31) warga Jl Sersan KKO Harun Kelurahan Dandangan Kota Kediri pada Kamis siang (23/11). Tersangka ditangkap dalam keadaan kopler di Pasar Ngaglik Unit III PT GG Tbk.
Dari tangan tersangka petugas berhasil mengamankan 25 butir pil jenis lexotan dan 2000 pil jenis double L,”Setelah kita minta keterangan kepada dia ternyata dia memiliki banyak komplotan,” kata Iptu Sudadi Kasat Reskoba Polresta Kediri pada RADAR Surabaya, Jumat (24/11).
Setelah dimintai keterangan Widodo menyebut nama Arif Eko Yuwono (32) warga Kwadungan Kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Tersangka Arif diamankan di rumahnya dan didalam almari kamarnya petugas mengamankan BB 300 butir pil jenis lexotan dan 3000 pil jenis double L.
Tidak puas polisi terus melakukan pelacakan, dari keteranga Arif dia menyebut tiga nama yakni Dhemes Tarmawan (27) yang diketahui ternyata seorang oknum wartawan sebuah tabloid di Kabupaten Kediri. Polisi melakukan pelacakan dirumah Dhemes namun hasilnya nihil, ditunggu sampai sore, tersangka yang mengaku baru pulang dari liputan di Tulungagung akhirnya ditangkap di depan rumahnya.
Dari penggeledahan yang dilakukan petugas ditemukan barang bukti 6 butir pil jenis lexotan dan 10 butir pil jenis double L serta uang Rp50 ribu,” Saya memang wartawan tabloid, namun karena tidak dibayar oleh perusahaan selain mbodrek saya juga berjualan pil,” kata Dhemes yang terlihat tetap “kemlinti” dan menganggap dirinya kebal hukum karena dia seoarang wartawan.
Dari pengakuan Dhemes , polisi kembali mendapat dua nama pelanggan Dhemes yakni Yudhi Muharsono (23) dan Agus Syafii (25) keduanya warga Jl Ngadisimo Utara Kelurahan Ngadisimo Kota Kediri. Kedua tersangka diamankan dirumahnya masing-masing. Dari tangan Yudhi petugas berhasil mengamankan 3 butir lexotan dan uang Rp30 ribu, sedangkan dari tangan Agus petugas berhasil mengamankan 6 butir lexotan dan 10 butir double L.
Dari hasil penangkapan para tersangka berdasarkan keterangan Arif Eko Yuwono, ternyata tersangka Arif masih mengaku memiliki anak buah yang rencanannya tidak ia sebutkan,” Dari pada yang kena kita-kita lebih baik saya sebutkan sekalian,” kata Arif.
Orang terakhir yang disebutkan Arif tersebut adalah Hariyanto (27) warga Sambi Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri. Tersangka ditangkap dirumhanya tanpa perlawanan beberapa saat setelah Arif memberikan keterangan. Dari tangan tersangka petugas berhasil mengamankan 1000 butir pil jenis double L dan 4200 butir jenis lexotan.“ Yang jelas kita belum puas dan akan terus mengembangkan kasus ini,” kata Sudadi.
Sementara itu dimintai keterangan terkait terlibatnya oknum wartawan yang terlibat dalam komplotan pengedar pil kirik ini, Drs Zaenal Arifin Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kediri menyatakan sangat menyesalkan.
“Inilah repotnya menata wartawan dan para pemilik media saat ini, kemudahan membuat media kadang tidak terfikirkan oleh perusahaan bagaiama cara mensejahterakan wartawan. Akibat wartawan tidak digaji atau gajinya tidak memenuhi standart UMK maka yang terjadi wartawan akan mbodrek dan menghalalkan segala cara salah satunya jualan pil koplo. Oleh karena itu kami berharap kepada pemilik modal jangan membuat media jika memang tidak bisa menggaji karyawan, sebab akan membuat dan mendidik wartawan menjadi tidak benar,” kata Zaenal pada RADAR Surabaya. (aro)

Ediaaan Tenan Alun Alun Dikepras !!!

Alun Alun Kota Kediri Akhirnya Tergusur

KEDIRI-RADAR- Kebanggan warga Kota Kediri untuk memiliki ruang terbuka hijau sirna sudah. Sebab alun alun yang ada sejak zaman kerajaan Kediri kini dimanfaatkan untuk kios PKL sebanyak 100 buah menyusul tergusurnya mereka di sekitar alun alun akibat pembangunan Plasa Dhaha.
Dari pantuan RADAR Surabaya, Kamis (23/11) para pekerja nampak mulai menggali pondasi kios-kios di alun alun sebelah utara dibawah pengawasan Bagio RT setempat sekaligus pengawas proyek orang yang dahulunya menentang dibangunnya kios-kios tersebut. Namun setelah didekati dan diberi berbagai janji akhirnya Bagio menurut.
Menurut Ir H Syaiful Muslimin Asisten II Sekkota Bagian Pembangunan menyatakan pembangunan kios-kios tersebut ditargetkan akan selesai dalam waktu 30 hari.“ Karena tidak ada kendala, maka kita kebut pembangunan kios-kios tersebut. Sebab sebentar lagi Plasa Dhaha akan diresmikan,” kata Syaiful pada RADAR Surabaya.
Sementara Ahmad Tsalis anggota Komisi C DPRD Kota Kediri yang sejak awal menolak dibangunya kios-kios tersebut mengaku prihatin dengan langkah pemkot yang terkesan tidak mengindahkan sejarah dan ruang terbuka untuk publik.
“ Saya tetap seperti semula bahwa apa yang dilakukan Pemkot Kediri untuk membangun kios alun alun tersebut adalah hal yang salah yang seharusnya alun alaun dijaga malah dirusak,” kata Tsalis yang juga satu- satunya dewan dari PKS itu menyesalkan.
Ditambahkan Tsalis terkait penolakan tersebut dirinya bersama anggota Komisi C akan meminta keterangan kepada eksekutif,” Dan kebetulan besok (hari ini,red) ada undangan dari Bapekko terkait Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) dan kita akan meminta keterangan kepada mereka,” tambah Tsalis.
Seperti diketahui anggota DPRD selain Tsalis dan kawan-kawan yang ada di Komisi C menyatakan setuju dengan dimanfaatkanya sebagian lokasi alun alun untuk kios PKL, sebab anggota dewan menganggap keputusan Pemkot tersebut sudah tepat karena tidak ada tempat alternatif tempat untuk para PKL (aro)

Dewan Tambah Sugih Nda.. !

Tunjangan Komunikasi Intensif Untuk DPRD Ditentang Warga Kota Kediri

KEDIRI-RADAR- Seluruh wakil rakyat di DPRD Kota Kediri tertawa gembira dengan terbitnya PP No 37/2006 yang mengatur tambahan dana berupa tunjangan komunikasi intensif Rp 6,3 juta per bulan atau ditentang sejumlah elemen masyarakat di Kota Kediri.
Pemberian tunjangan yang jika dirapel sejak awal tahun 2006 mencapai Rp 75,6 juta itu dianggap sangat tidak berpihak kepada rakyat.
“Pemberian tunjangan itu sangat menyakiti hati rakyat. Seharusnya para wakil rakyat harus menolak tunjangan itu. Jika mereka menerima, sama dengan menari-nari di atas penderitaan rakyat,” kata Abdul Aziz, pengurus Yayasan Madani Kediri di gedung DPRD Kota Kediri, Kamis (23/11).
Menurut Aziz, lembaganya tengah menggalang kekuatan seluruh masyarakat untuk bersama-sama menolak pemberlakukan PP tersebut, hingga peraturan itu dicabut kembali. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah mengajukan judicial review atas PP No 37/2006 itu.
“Selain menggalang kekuatan untuk terus menekan wakil rakyat tidak menerima tunjangan itu, kami akan mengajukan judicial review kae Mahkamah Agung,” tandas Abdul Aziz.
Di sisi lain, para wakil rakyat justru menyatakan gembira dan bersuka-cita atas adanya tunjangan komunikasi intensif. Menurut Muhaimin, Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Kediri, dengan adanya tambahan tunjangan itu bisa dipakai untuk memingkatkan komunikasi dengan konstituen.
“Tidak ada masalah dengan tambahan tunjangan itu. Prinsipnya kami menerima dengan senang hati tambahan itu. Dengan uang itu kami bisa semakin sering turun ke bawah,” kata Muhaimin dengan muka berseri-seri.
Sementara Zen Fanani, rekannya di Fraksi PKB yang juga Ketua DPC PKB Kota Kediri menyatakan, tambahan tunjangan itu bisa dipakai untuk menambah anggaran partai. Menurutnya selama ini tiap wakil rakyat wajib memberikan 50 persen uang representatif yang diterima dari DPRD.
“Tiap bulan saya dapat uang representatif Rp 2,1 juta. Selama ini yang Rp 1 juta saya berikan ke partai. Dengan adanya keniakan tunjangan komunikasi intensif, uang yang masuk ke partai pasti jadi semakin banyak. Jadi bagi kami tidak ada masalah,” kata Zen Fanani.
Meskipun selama ini sebagian uang representative diserahkan ke partai, namun para wakil rakyat tiap bulan mendapatkan sejumlah uang tambahan, diantaranya tunjangan jabatan, keluarga dan anak, beras, dan lain-lain.
Sementara Ketua DPRD Kota Kediri, Bambang Harianto menolak diwawancarai terkait PP No 37/2006 itu. Melalui ajudannya, dia tidak bersedia menemui untuk dimintai keterangan.
Padahal, menurut pegawai Sekretariat DPRD Kota Kediri, dengan adanya PP 37/2006 itu, Ketua DPRD mendapat tunjangan operasional Rp 12,6 juta (enam kali uang representasi) per bulan. Sedangkan Wakil Ketua DPRD mendapat Rp 8,4 juta (empat kali).
“Jika dirapel, Ketua DPRD bisa mengantongi Rp 226,8 juta dan wakilnya Rp 176,4 juta. Tapi jangan bilang-bilang ya, nanti saya dimarahi ketua,” kata
salah seorang pegawai di Sekretariat DPRD Kota Kediri.
Sementara itu Kepala Bagian Keuangan Pemkot Kediri Drs Soeprapto menyatakan belum mengehaui apakah Pemkot bisa membayar kepada dewan terkait pemberlakukan PP 37/2006 yang mulai diberlakukan per 14 Nopember kemarin,” Belum ada pembahasan khusus terkait masalah tersebut dan saya sendiri juga belum membaca secara detail PP tersebut,” kata Soeprapto pada RADAR Surabaya. (aro)